Foke: Hindari Macet, Pekerja Tak Perlu Datang ke Kantor

Kompas.com - 13/06/2012, 06:56 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Prediksi Lalu lintas Jakarta akan mengalami stagnasi pada 2014 tampaknya bukan isapan jempol belaka. Wajah lalu lintas Jakarta dapat terlihat dari kondisi saat ini yang tidak berhenti dihantui kemacetan. Salah satu yang dapat dilakukan untuk mengurai kemacetan adalah dengan mengubah gaya hidup.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, kemacetan yang terjadi di Jakarta dapat diselesaikan dengan banyak cara. Selain membiasakan diri untuk naik angkutan umum daripada kendaraan pribadi, ada baiknya mulai melakukan pendekatan berbeda untuk menekan mobilitas warga Jakarta.

"Ada satu hal yang akan dilakukan secara spesifik yaitu mengontrol lalu lintas dengan pendekatan berbeda," kata Foke, sapaan akrab Fauzi Bowo, dalam simposium internasional ecotechnology di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta, Selasa (12/6/2012).

Ia mengusulkan agar warga Jakarta sekarang dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk melakukan berbagai hal sehingga dapat mengurangi efek mobilitas yang tinggi. Ia memberikan contoh bahwa pekerja tak perlu hadir di kantor yang terletak di pusat kota. Pekerjaan dapat diselesaikan di rumah atau di mana pun dengan memanfaatkan internet.

Begitu pula belanja dan aktivitas perbankan dapat memanfaatkan internet. "Sudah saatnya menjalankan e-working, e-banking, e-shopping, bahkan e-learning," ujar Foke.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi informasi untuk beragam aktivitas warga Jakarta maupun yang tinggal di kawasan sekitar ibukota dinilai efektif dan efisien. Dengan memanfaatkan teknologi dan jaringan internet, waktu dan biaya tentunya dapat dihemat.

Kendati demikian, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tetap meneruskan program pembangunan jaringan jalan, pengadaan angkutan massal, dan pembenahan manajemen lalu lintas. Banyak hal yang terus dikembangkan dalam lima tahun terakhir ini.

Skema yang disiapkan pemerintah di antaranya pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, peniadaan jalan simpang sebidang, penerapan tarif jalan di jalur tertentu, pelebaran jalan, pembangunan jalan baru, pengadaan pedestrian terutama untuk jalur sepeda dan pejalan kaki, dan pengelolaan parkir.

Terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga tetap menjalankan pembangunan transportasi yang mampu bergerak cepat, mampu mengangkut banyak orang dan nyaman. Untuk itu pengembangan Transjakarta dan Mass Rapid Transit (MRT) terus dikejar agar lekas selesai.

"Semua harus saling bersinergi. Tidak efisien dan efektif kalau hanya dengan mengontrol kendaraan pribadi," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau