KBRI Pastikan Belum Ada Kabar TKI Tewas di Homs

Kompas.com - 13/06/2012, 08:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Duta Besar RI untuk Suriah Wahib, Selasa (12/6/2012), mengaku masih belum mendapat informasi adanya tenaga kerja Indonesia yang tewas di wilayah Homs, seperti dilaporkan oleh Migrant Care.

Kabar tewasnya tenaga kerja Indonesia (TKI) itu diperoleh dari seorang TKI, Sri Dewi (30), di Damaskus. Sri yang sudah bekerja lebih dari setahun sebagai pekerja rumah tangga sebelumnya menghubungi kakaknya di kampung melalui layanan pesan pendek.

Dalam pesan itu dia bercerita soal kematian dua temannya. Sang kakak, Rasminto, di Ngawi lalu melaporkan cerita Sri tadi ke posko Migrant Care di Ngawi.

”Saya mendapat kabar dari Sri lewat SMS kalau kedua temannya tewas tertembak saat terjadi serangan bom. SMS tersebut dikirim lima hari lalu,” tutur Rasminto saat dihubungi kemarin siang.

Sementara itu, saat dihubungi Kompas melalui telepon, Sri mengatakan, ”Dua teman saya itu namanya Ani asal Cianjur dan Aminah asal Sukabumi. Rumah majikan Ani hancur dibom, sementara Aminah tewas tertembak di rumah majikannya.” Sri juga mengaku telah beberapa kali menghubungi Kedutaan Besar RI soal itu.

Menurut Sri, majikan Ani dan majikannya berteman. Sang majikan memberitahunya kalau seluruh anggota keluarga majikan Ani tewas lantaran rumah mereka hancur dibom.

”Enggak ada yang selamat kata majikan saya. Saya juga baca nama-nama korban di televisi. Sejak itu mereka berdua tidak bisa lagi saya kontak,” ujar Sri.

Sri mengaku sangat ketakutan dan minta KBRI segera memastikan kabar dan mencari keberadaan kedua rekannya itu. Akan tetapi, sampai sekarang tidak ada perkembangan.

Saat dihubungi, Dubes Wahib mengaku langsung mengecek ke petugas KBRI yang ditugaskan di Homs untuk mencari kepastian isi pengaduan itu.

”Sampai sekarang tidak ada laporan ada TKI tewas di Homs. Ada TKI namanya mirip-mirip, Minah binti Turihasan asal Cianjur. Tapi kalau Minah itu justru mau kita bawa ke KBRI, bersama beberapa TKI lain, untuk dipulangkan ke Tanah Air tanggal 17 Juni besok,” ujar Wahib.

Wahib lebih lanjut bercerita, pernah ada seorang TKI mengaku terkena ledakan bom, namun setelah dicek ternyata bohong. Motivasinya hanya ingin segera dipulangkan ke Indonesia.

Hingga hari ini, tambah Wahib, jumlah WNI atau TKI yang ditampung di KBRI, menunggu untuk dipulangkan, sebanyak 115 orang. ”Rencananya tanggal 17 Juni kami akan memulangkan 50 orang. Namun, kursi pesawat yang tersedia cuma ada untuk 20 orang,” ujar Wahib.

Dalam siaran persnya, Kementerian Luar Negeri RI mengingatkan WNI yang akan bepergian ke Suriah bisa mempertimbangkan dan meninjau ulang rencana itu.

Kemlu juga menyediakan beberapa nomor hotline, baik di KBRI Damaskus maupun Kemlu, yaitu +963116119630, +963954444810, +963933098212, +963941950829, atau (021)381 3186, (021)3849045, 081281686601, 087885665609, dan 087875777070. (DWA/WIN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau