Harga Rumah Bisa Melejit 15 Persen di Semester II

Kompas.com - 13/06/2012, 11:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan waktu sangat penting bagi konsumen yang hendak membeli rumah, baik rumah tapak maupun high rise. Pasalnya, harga properti saat ini terus meninggi.

Kenaikan harga di semester dua nanti diperkirakan mencapai 15 % meskipun ada kemungkinan penjualan menurun. Berdasarkan proyeksi Associate Director Residential Cushman & Wakefield Tikam Sujanani, Senin (11/6/2012) lalu, harga rumah di semester dua akan mengalami kenaikan 10%-15% dibanding akhir semester satu.

"Kenaikannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan semester satu," ujar Tikam.

Tikam bilang, umumnya pengembang mengerek harga berdasarkan tahap penjualan. Semakin mendekati penyelesaian proyek, harganya pun semakin mahal. Nah, biasanya, proyek dimulai di awal tahun atau awal semester dua. Itu sebabnya, harga properti di akhir tahun biasanya sudah mahal.

Di sisi lain, penjualan rumah di akhir tahun biasanya justru lebih sepi karena fokus konsumen teralihkan ke hari raya dan liburan. Namun, pengembang tidak mungkin banting harga.

"Paling-paling hanya memberi gimmick pemasaran untuk menarik konsumen," imbuh Tikam.

Di Jakarta, lanjut Tikam, lokasi yang masih menyimpan potensi untuk pengembangan apartemen kelas menengah sampai menengah atas adalah Puri Indah di Jakarta Barat dan Kelapa Gading di Jakarta Utara. Alasannya, di kedua lokasi banyak proyek mixed use yang sudah mulai dibangun.

Kondisi itu semakin menguat, apalagi saat ini stok lahan di central business district (CBD) Jakarta sudah semakin menipis, sehingga pengembang yang masuk ke sana mau tidak mau harus membangun apartemen untuk kelas yang sangat tinggi. Harga lahan di CBD saat ini, menurut Tikam, sudah mencapai Rp 40 juta-Rp 50 juta per meter persegi (m2).

Sementara itu, Direktur dan Head of Residential & Investment Services Leads Property, Evi Susanti, memprediksi kenaikan harga rumah, baik rumah tapak, townhouse, atau apartemen paling banter 10% di semester dua. Kenaikan dinilainya masih stabil, mengingat tidak ada perubahan suku bunga Kredit Kepemilikan Rumah (KPR)/Kredit Kepemilikan Apartemen (KPA) yang masih dalam kisaran 7,5%-9,8%.

Evi justru tidak sependapat dengan Tikam mengenai sepinya proyek baru di akhir tahun. Menurutnya, setelah Lebaran pun masih banyak proyek dimulai.

"Banyak pengembang mengejar pemasaran dan konstruksi tahun ini, sehingga sebelum pemilu 2014 sudah sold out," ujar Evi.

Evi juga mengakui kemungkinan penurunan penjualan di akhir tahun. Menurut perhitungannya, jumlah unit yang bisa dijual oleh pengembang di bulan-bulan tertentu seperti liburan sekolah, puasa atau Lebaran mencapai 30%-40% dibanding hari biasa.

Pengembang sejumlah kawasan residensial di pinggiran Jakarta, PT Modernland Realty Tbk pun mengaku sudah ambil ancang-ancang untuk menaikkan harga proyeknya di semester dua. Sayang, Chief Operating Officer (COO) Urban Development Modernland Realty Andy K. Natanael belum bisa memastikan persentasenya.

"Semuanya tergantung penjualan dan harga bahan bangunan," ujar Andy.

(Adisti Dini Indreswari)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau