TKI asal Bulukumba Tewas Dibunuh di Malaysia

Kompas.com - 13/06/2012, 13:30 WIB

BULUKUMBA, KOMPAS.com - Seorang tenaga kerja Indonesia asal Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, dikabarkan tewas akibat pembunuhan saat memanfaatkan hari libur selama tiga hari. Syamsul Rijal baru sekitar lima bulan bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit di Serawk, Malaysia timur.

Menurut Santi, istrinya, tubuh suaminya yang berumur 25 tahun itu ditemukan di tepi jalan oleh warga setempat. Santi menuturkan, Rabu (13/6/2012),  Rijal hijrah ke Malaysia untuk bekerja di ladang sawit setelah diajak oleh seorang temannya bernama Sabri.

Baru lima bulan Sabri bekerja di Serawak, Santi mendapat kabar dari istri Sabri, bahwa suaminya ditemukan di tepi jalan dalam keadaan tak bernyawa. Sabri yang bekerja di tempat yang sama dengan Rijal sudah lebih dulu pulang ke kampung halaman.

"Kami mendapat kabar. awalnya Rijal meninggal karena kecelakaan, berselang beberapa hari, pihak kepolisian Malaysia menghubungi kami jika Rijal tewas terbunuh. Karena saat dilakukan identifikasi di rumah sakit, dokter menemukan luka tusukan di leher belakang," tutur Santi yang  menangis dan menggendong anak semata wayangnya yang masih berusia dua tahun.

Lanjut Santi, suamnya meninggal pada Jumat (1/6/2012) lalu dan hingga sampai saat ini jenazah Rijal belum dipulangkan. Dia mengaku pihak keluarga belum melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah setempat, karena tidak mengetahui prosedurnya.

"Kami orang miskin, sehingga kami tidak tahu kemana harus mengadu kalau ada kejadian seperti ini," sahut Santi. Keluarga kecil ini berharap, jenazah Rijal segera tiba di kampung halamannya untuk dikebumikan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau