KOMPAS.com - Dua negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), Ekuador dan Libya khawatir kalau organisasi terlalu banyak memproduksi minyak. Kendati begitu, kedua negara terbilang menghindar dari ajakan pengurangan produksi. Ajakan itu mengemuka saat pertemuan tingkat menteri OPEC, sebagaimana warta AFP pada Rabu (13/6/2012).
OPEC kini tengah menghadapi kemerosotan harga hingga 25 persen sejak Maret 2012. Hal itu terpicu oleh lemahnya permintaan di samping melimpahnya persediaan. Tak cuma itu, gejolak ekonomi global juga memberi pengaruh. "Saya pikir itu adalah kelebihan pasokan," Menteri Sumber Daya Alam Ekuador Wilson Pastor mengatakan kepada wartawan.
Kini, ada 1,6 juta barrel per hari produksi berlebihan. Angka ini di atas pagu OPEC 30 juta barrel per hari.
Pastor mengatakan akan meminta 12 negara anggota OPEC memproduksi sepertiga dari pasokan minyak mentah dunia, mempertahankan pagu pada 30 juta barel per hari, pada Kamis.
Libya juga menyuarakan keprihatinan tentang kelebihan pasokan yang diperkirakan bahkan lebih tinggi pada 1,8 juta barrel per hari.
Sementara, dua anggota lainnya, Venezuela dan Iran ingin OPEC memangkas produksi untuk mendongkrak harga. Tapi, anggota kartel terkemuka Arab Saudi khawatir bahwa ini dapat menghambat pemulihan ekonomi di seluruh dunia.
OPEC juga akan menggunakan pertemuan pada Kamis untuk membahas pemilihan Sekretaris Jenderal baru, karena Abdullah El-Badri dari Libya pensiun pada akhir tahun. Iran dan Arab Saudi bersaing untuk posisi itu, bersama dengan Ekuador dan Irak.
Pastor yang berbicara menjelang seminar energi di Hofburg Palace, Wina, pada Rabu, mengatakan,"Ini akan menjadi suatu kehormatan bagi Ekuador dan Amerika Selatan namun kami akan lihat."