Diburu, Barang Seni Yang Dirampok di era Nazi Jerman

Kompas.com - 14/06/2012, 22:09 WIB

BERLIN, KOMPAS.com - Mereka boleh dibilang detektif pencari harta karun yang dirampok. Mereka ini para ahli museum, rumah leleng, badan pemerintah, dan berbagai lembaga bertemu di Berlin, Jerman pekan ini, membahas langkah-langkah memburu barang seni yang dirampok Nazi Jerman.

Kantor berita AP, Kamis (14/6/2012) melaporkan, setelah 67 tahun berakhir Perang Dunia II, masih ada jutaan barang seni hilang atau dicuri selama era Nazi Jerman namun belum juga ditemukan. Benda-benda ini diambil oleh pejabat atau tentara Nazi Jerman, dibawa oleh tentara Uni Soviet diakhri perang ataupun dibawa oleh tentara Sekutu yang menguasai Jerman.

Para deteketif harta karun ini akan hadir dalam konferensi selama enam hari yang dimulai hari Jumat (15/6/2012) di kota Magdeburg, kota di Jerman timur. Konferensi yang diadakan Lembaga Hukum Shoah Eropa ini menghadirkan 35 ahli yang berdatangan dari sejumlah negara.

Fokus pencarian yakni barang seni ataupun lukisan raksasa dan sebagainya yang hilang. Upaya menemukan barang seni yang hilang pada era Nazi Jerman ini akan dilakukan secara global.

Diakui pihak penyelenggara, langkah ini tetap sulit karena belum pelatihan bagaimana menemukan barang-barang seni ini. Namun diyakini, pelatihan akan diberikan pada para peserta di sejumlah negara untuk bagaimana bisa menemukan barang-barang seni yang nilainya tak terhingga ini. 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau