JEMBER, KOMPAS
”Penyusutan orangutan akibat kebakaran hutan, pembukaan lahan untuk permukiman, dan perkebunan, juga pencurian,” kata mantan Direktur Yayasan Penyelamatan Orangutan Borneo, Imam Taufiq, di Universitas Jember, Jawa Timur, Kamis (14/6).
Hal serupa dibenarkan Direktur PT Bisma Dharma Kencana A Achmad Soedarsan. Ia menambahkan, perlu penelitian komprehensif tentang orangutan. ”Perlu ada konservasinya, penelitian, dan pemanfaatan hasil penelitian. Kegiatan ini masih sangat sedikit,” ujar Soedarsan, yang juga penguasa kelapa sawit.
Perguruan tinggi atau Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu mengambil prakarsa agar penelitian secara rinci dalam segala aspek tentang kehidupan dan manfaat orangutan bisa dilakukan.
Imam Taufiq menambahkan, kegiatan penelitian orangutan dan lingkungannya justru lebih banyak dilakukan orang asing. ”Jumlah mereka lebih banyak dibanding peneliti Indonesia sehingga untuk kegiatan kampanye terhadap perlindungan orangutan lebih didengar dunia internasional,” ujarnya.
Sepanjang abad ke-20, ancaman serius terhadap kelangsungan hidup orangutan datang dari manusia. Satwa ini biasanya ditangkap untuk tujuan komersial dan pemeliharaan di rumah. Penelitian terkait manfaat orangutan perlu digalakkan, antara lain, karena memiliki DNA 96,4 persen sama dengan DNA manusia.
Areal tempat tinggal orangutan makin menyusut karena untuk kepentingan ekonomi sehingga beberapa hak dasar kebebasan hewan tidak dimiliki lagi. Hak dasar itu, antara lain, bebas dari lapar dan haus, bebas mengekspresikan tingkah lakunya secara normal.