Jakarta 1

Mediasi "Berkumis" Ditunda sampai 21 Juni 2012

Kompas.com - 15/06/2012, 10:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mediasi konflik "Berkumis" yang digagas oleh Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) DKI Jakarta kali ini dihadiri oleh ahli bahasa dan ahli iklan. Walaupun sudah mendatangkan para ahli, tetapi perdebatan ini masih menemui jalan buntu.

Ketua Panwaslu DKI Jakarta, Ramdansyah, mengatakan, pihaknya menginginkan mediasi ketiga itu yang terakhir dan semua permasalahan selesai, tetapi ternyata kembali deadlock. "Sebenarnya sudah dijadwalkan kalau mediasi ketiga ini merupakan mediasi final. Namun, kembali deadlock karena tim sukses Foke-Nara tidak melengkapi persyaratan administrasi yang dibutuhkan, padahal sudah diingatkan dari mediasi kedua kemarin," ujarnya di Kantor Panwaslu, Gedung Sasana Prasada Karya, Jakarta, Kamis (14/6/2012).

"Dari tim Hendardji-Riza bisa memberikan bukti kepada kami bahwa pada 11 Juni 2012, Bang Foke justru berterima kasih karena kumisnya dipopulerkan dan tidak ada masalah dalam slogan tersebut. Tentunya akan dikroscek kembali kepada timses Foke-Nara untuk membawa pernyataan keberatan Foke dengan slogan tersebut, karena pengajuan keberatan hanya dari beberapa organisasi sayap pendukung Foke-Nara," tambahnya.

"Jadi, kami bersepakat untuk mundur demi kebaikan semua, tanggal 21 Juni 2012 direncanakan sebagai mediasi final. Sebenarnya direncanakan hari ini finalnya, dengan menawarkan mereka untuk duduk bersama-sama mendengarkan materi substansi dari para ahli bahasa dan iklan. Kalau tadi mereka mendengarkan, maka mereka akan mengedepankan masalah secara sosiologis bahwa hal ini berpotensi menjadi masalah sebagai upaya untuk terjadinya konflik ke depan," katanya.

Sebagai jalan keluar dari permasalahan tersebut, Panwaslu mengajak pakar bahasa dan periklanan profesional. "Hari ini pertemuan tidak menghasilkan apa-apa, deadlock. Nanti kami akan bertemu lagi di tanggal 21 dan semoga final ya, karena akan memasuki masa kampanye," ujar Frans, pakar bahasa dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Sementara pakar periklanan, Ridwan Handoyo, mengatakan, hasil pertemuan tersebut, para tim sukses yang hadir bersepakat untuk menghentikan proses sementara ini sampai persyaratan atau hal-hal administrasi dipenuhi dan dilengkapi.

"Berhubungan dengan slogan 'Berkumis' itu, kalau dilihat dari sisi periklanan, ada pro dan kontranya. Apabila beriklan, apalagi iklan politik, marilah kita menuangkan karya kita dalam sebuah niat positif, karena tujuannya juga positif, demi negara, bangsa, dan rakyat," tuturnya.

"Janganlah sampai suatu saat muncul iklan politik yang didasari dengan niat kampanye negatif. Hal itu tidak akan bermanfaat dan tidak akan diterima masyarakat," kata pakar periklanan dari Badan Pengawas Periklanan PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia) tersebut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau