Anas SBY Jadi Panduan

Kompas.com - 16/06/2012, 03:45 WIB

Jakarta, Kompas - Pernyataan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono selalu menjadi panduan bagi kader partai itu, termasuk pernyataan bahwa kader bermasalah harus mundur. Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat Anas Urbaningrum pun memegang pernyataan Yudhoyono itu sebagai panduan.

”Apa yang disampaikan Kawanbin (Ketua Dewan Pembina) beberapa hari lalu kami garis bawahi semua. Itu benar semua. Itu jadi panduan bagi kader Demokrat. Tidak ada yang tidak setuju,” kata Anas, Jumat (15/6), dalam jumpa pers seusai acara menonton bersama film Soegija di bioskop XXI, Plaza Senayan, Jakarta.

Para pengurus Partai Demokrat hadir dalam acara itu, antara lain Wakil Sekjen Saan Mustofa, mantan Ketua Fraksi Partai Demokrat Jafar Hafsah, serta Ketua DPP Sutan Bhatoegana.

Dalam pertemuan Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator Partai Demokrat (FKPDPD) beberapa hari silam, Yudhoyono menyatakan, kader yang bermasalah harus mundur. Pernyataan semacam ini sebelumnya juga disampaikan Yudhoyono dalam sejumlah acara Partai Demokrat.

Mengenai pertemuan pengurus dewan pimpinan daerah di kediaman Yudhoyono tanpa kehadiran dirinya beberapa waktu lalu, Anas meminta hal itu tidak dilihat sebagai bentuk adanya perpecahan.

”Kami tahu, kami sadar, ada yang menginginkan kekacauan di Partai Demokrat. Ada yang punya harapan Demokrat tidak solid, kacau,” kata Anas.

Mengenai ketidakhadiran Anas dalam acara FKPDPD, menurut Sutan yang merupakan Sekjen FKPDPD, hal itu disebabkan surat undangan tidak sampai. ”Secara lisan, Anas tahu. Kalau surat undangan datang, Pak Anas pasti datang,” jelasnya.

Anas menambahkan bahwa Partai Demokrat solid dan bersatu. ”Maka, upaya adu domba pasti gagal. Tidak perlu diangkat ada hal-hal yang tendensius atau mengadu domba,” tuturnya.

Permalukan partai

Pengajar kebijakan publik dari Universitas Indonesia, Andrinof Chaniago, menuturkan, Yudhoyono telah mempermalukan partainya dengan meminta kader yang tidak menjalankan garis partai agar mundur. Pasalnya, Yudhoyono menyampaikan pernyataan itu dalam acara partai yang terbuka bagi media.

”Gaya politik Yudhoyono adalah melibatkan publik untuk mendapatkan dukungan dalam penyelesaian masalah, misalnya ketika merombak kabinet. Namun, persoalan yang menimpa Partai Demokrat belakangan ini merupakan persoalan internal. Membuka persoalan itu kepada publik sama artinya dengan membuka aib rumah sendiri,” papar Andrinof Chaniago, Jumat.

Secara terpisah, pengamat politik J Kristiadi menilai, imbauan Yudhoyono itu sebenarnya dapat menjadi momentum perbaikan tatanan partai politik. Sebagai kepala pemerintahan dan panglima perang pemberantasan korupsi, Yudhoyono dapat memanggil pimpinan partai koalisi untuk membenahi tatanan partai politik, terutama pendanaan partai.

(ato/now/nta/fer/egi)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau