KOMPAS.com - Bagaimana seorang polisi memandang pentingnya keamanan dan kecintaannya kepada sepak bola terlihat dalam sosok Gorgin Shoai. Polisi dari Swedia ini bersama tujuh koleganya bertugas menjaga keamanan para suporter tim Swedia sekaligus mencegah mereka membuat onar di gelaran Piala Eropa 2012, khususnya di Kiev.
Tugas Shoai dan kawan-kawan sebagai penggawa keamanan di perhelatan ini menjadi berbeda karena satu hal, mereka mencintai sepak bola. Segenap emosi dan empati tercurah, demi suporter, demi Zlatan Ibrahimovic, demi Swedia. Bandingkan dengan mengamankan demonstrasi menentang pemerintah, misalnya.
”Kami di sini selama Swedia terus memenangi setiap pertandingan. Saya berharap kami bisa meraih hasil baik di grup. Target saya, mereka (tim Swedia) bisa melangkah ke tahap selanjutnya,” kata Shoai di pinggir lapangan, sambil mengawasi fans Swedia yang bersorak bergembira menonton tim mereka berlatih.
Shoai dan rekan-rekannya harus berkonsentrasi penuh. Pertama, mereka—bekerja sama dengan polisi Ukraina—harus menjaga para suporter tetap sopan. Kedua, mereka harus menjaga keamanan suporter. ”Ada beberapa orang kehilangan dompet dan ponsel. Lihat saja, mereka berpesta sepanjang waktu,” tutur Shoai.
Untuk semua tugas ini, para penjaga keamanan Swedia ini tidak diperkenankan membawa senjata.
Di luar urusan keamanan, Shoai juga ingin menonton sepak bola dengan tenang, menyaksikan aksi Ibrahimovic. Matanya berbinar saat menceritakan Ibrahimovic. Ia mengenang penyerang klub AC Milan ini sebagai teman masa kecilnya di Malmo, Swedia. Keduanya sama-sama bermimpi menjadi pemain sepak bola dan bisa mengharumkan nama bangsa. Keduanya menemukan jalan yang berbeda dan hanya striker sekelas Ibrahimovic-lah yang bisa bermain di Piala Eropa 2012.
”Saya dua tahun lebih tua dari Zlatan, tetapi ia lebih besar, ini sudah terlihat sejak kecil. Ia lebih besar dari siapa pun sehingga sulit dijaga (saat bermain bola). Cara ia menerima bola adalah yang terbaik. Ia sangat kuat, kami tidak bisa menangkapnya,” ujar Shoai, mengenang masa kecilnya.
Bagi Shoai, Ibrahimovic adalah mimpi setiap anak Swedia pencinta sepak bola. ”Dengan Zlatan, semua bisa terjadi,” katanya.
Maka, demi Ibrahimovic dan Swedia, Shoai dan kawan-kawan harus memastikan para pendukung timnas tidak ”kebablasan”. Soal keamanan ini tidak main-main, bahkan bagi negara di Skandinavia yang sebenarnya damai ini.
Di tahun-tahun terakhir, kekerasan antarsuporter mewarnai jagat sepak bola Swedia. Beberapa pertandingan dicoreng oleh bunyi petasan, bahkan dilempar ke petugas. Penjaga gawang timnas, Par Hansson, pernah dipukul oleh penonton dan ini mengakibatkan laga antara klub Malmo dan Helsingborg dihentikan.
Menteri Olahraga Swedia Lena Adelsohn-Liljeroth pernah mengatakan, menjaga pertandingan sepak bola tetap aman untuk keluarga menjadi prioritas pemerintah. Karena itulah, pemerintah menugaskan polisi seperti Shoai bekerja 24 jam sepanjang turnamen.
Benar saja. Pasca-kekalahan 1-2 dari Ukraina, beberapa penonton Swedia ditangkap polisi karena rusuh. Kerusuhan sebelumnya juga terjadi antara suporter Polandia dan Rusia. Heboh! (REUTERS/IVV)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang