Perjalanan Yunani pada babak penyisihan ibarat menaiki wahana putar (roller coaster) dan nyaris tereliminasi. Hasil seri melawan Polandia 1-1 dan kalah dari Ceko 1-2 sempat membuat tim ”Negeri Para Dewa” itu berada pada posisi kritis.
Pada laga penentuan, tim asuhan Fernando Santos menang melawan tim favorit Rusia 1-0. Padahal, dalam dua laga Piala Eropa 2004 dan 2008, Yunani tak pernah menang melawan Rusia.
Beberapa hari lalu, mantan kiper nasional Yunani, Antonis Nikopolidis, sempat merasa pesimistis dan berucap, para dewa telah menghukum mereka. Ternyata hukuman itu digantikan hadiah luar biasa di tengah-tengah kemelut negerinya yang tidak kunjung pulih.
Catatan di Grup A menjelaskan Yunani bukanlah tim paling baik, tetapi bukan pula terburuk. Mereka mampu bertengger di posisi kedua dengan empat poin di bawah Ceko yang meraih enam poin. Meski sama-sama mengoleksi empat angka, Rusia tersingkir karena kalah rekor pertemuan (head to head) dengan Yunani.
”Kami harus membersihkan kepala dan menjaga kaki kami tetap menjejak bumi supaya kami dapat mempersiapkan segala sesuatu yang menanti kami pada babak delapan besar,” ujar Santos yang mengambil alih kursi pelatih dari Otto Rehhagel, arsitek Yunani saat meraih juara Piala Eropa 2004.
”Mengalahkan Rusia tidak serta-merta membuat kami menjadi tim terbaik di dunia, sebaliknya permulaan yang jelek juga tidak membuat kami tim paling buruk,” kata Santos.
Perjalanan Yunani melaju ke putaran final Piala Eropa sebenarnya cukup bagus dengan hanya kebobolan lima gol dalam 10 pertandingan kualifikasi. Sejak Piala Dunia 2010, Yunani hanya kalah dua kali dalam 24 laga terakhirnya.
”Kami tahu siapa diri kami. Kami akan memberikan semua yang mampu kami dapatkan. Inilah karakter asli kami pada laga yang sulit,” ujar Santos.
Di babak delapan besar, Yunani akan ditantang juara Grup B yang masih memiliki kemungkinan beragam. Sampai berita ini diturunkan, juara Grup B masih ditentukan oleh pertandingan antara Jerman dan Denmark serta Portugal lawan Belanda.
Pada babak perempat final tanggal 22 Juni, pertandingan dilangsungkan di Gdansk. Namun, Yunani kehilangan kapten Giorgos Karagounis, yang sudah membela negaranya 120 kali, karena akumulasi kartu kuning.
”Kami tidak takut dengan tim besar mana pun di turnamen ini meskipun itu Jerman. Saya tidak ragu. Kami justru bermain bagus melawan tim kuat,” kata gelandang Giorgos Tzavellas.
Lolosnya tim Ceko juga di luar dugaan. Setelah kekalahan 1-4 dari Rusia, Pelatih Michal Bilek didera cacian pendukung Ceko. Bilek menjadi tokoh yang tidak dicintai, tidak diinginkan, dan tidak dihargai, malah diragukan kemampuannya.
Bilek akhirnya menjawab cacian itu dengan meloloskan tim ”Kereta Cepat” ke delapan besar sekaligus menghidupkan asa capaian prestisius siklus delapan tahunan. Tahun 1996, Ceko menjadi runner-up Piala Eropa setelah dikalahkan Jerman. Delapan tahun kemudian mereka lolos ke semifinal, tetapi kalah dari Yunani.
Lolos ke delapan besar pun sudah membantu memadamkan kritikan kepada Bilek. Selama ini, media lokal tidak senang dengan pilihan skuadnya dan taktik permainan yang diramunya.
Bayangkan, Ceko melewati kualifikasi menegangkan sebelum mendapat tempat di perhelatan Piala Eropa. Tiket itu diperoleh saat mengalahkan Montenegro lewat laga play off.
Setelah dihajar Rusia dengan skor memalukan 4-1, mayoritas publik Ceko menganggap, kesempatan ke final sudah hilang. Namun, ketika perubahan taktik dilakukan, Bilek akhirnya mampu meraih kemenangan atas Yunani dan tuan rumah Polandia.
Dia memasukkan gelandang bertahan Tomas Hubschman ke jajaran pemain utama dan memindahkan Petr Jiracek ke sayap. Mereka juga mengubah gaya permainan, menjadi lebih sabar di lini depan untuk penyelesaian akhir dan tidak bermain terlalu terbuka seperti saat mengalami kekalahan telak melawan Rusia, lewat serangan baliknya.
Di dua pertandingan terakhir, gawang Ceko hanya kebobolan akibat blunder kiper Petr Cech, sementara Hubschman membuat dua umpan penghasil gol (asis) dan Jiracek membuat dua gol untuk meloloskan Ceko menjadi juara Grup A.
Pada babak delapan besar, Ceko akan menantang runner-up Grup B yang juga menunggu hasil pertandingan antara Jerman dan Denmark serta Belanda lawan Portugal.
Buat Rusia, kekalahan 0-1 dari Yunani meninggalkan luka pedih mendalam. Dick Advocaat dikabarkan langsung ”diistirahatkan” sebagai pelatih. Namun, Advocaat sudah menyepakati akan pulang kampung untuk melatih PSV Eindhoven setelah ajang Piala Eropa.
Adapun kekalahan Polandia dari Ceko 0-1, yang menghilangkan mimpi lolos ke babak delapan besar, dikait-kaitkan dengan masa lalu. Terengah-engah di akhir adalah tradisi Polandia. Tradisi itu tidak hanya pada perang, tetapi juga berlaku pada sepak bola.