Mesiu Nasionalisme yang Padam

Kompas.com - 18/06/2012, 13:46 WIB

Catatan Sepak Bola Sindhunata

JIKA sebuah negara berada dalam krisis, orang boleh bertanya, manakah yang harus didahulukan, politik atau realitas. Kaum idealis dan visioner akan menjawab: politik. Sebaliknya kaum pragmatis bersikukuh: realitas.

Dua kubu di atas selalu bertengkar. Namun, dewasa ini tampaknya di mana-mana, juga di Eropa maupun di negeri kita, politik sedang sekarat dan tak bergigi lagi. Sementara pragmatisme realitas, terutama realitas bisnis dan ekonomis, sedang berjaya mengagungkan supremasinya dan menginjak-injak politik.

Dalam iklim demikian, realitas bisnis dan ekonomis menjadi diktat utama. Dan politik mati suri. Maka, tak ada lagi yang bertanya, apakah yang kita kerjakan ini masih sesuai dengan prinsip hidup berbangsa-bernegara. Yang kita tanyakan hanya, apakah yang kita kerjakan dalam praksis dan demi praksis.

Karena itu, realitas bisnis menjadi normatif bagi pengambilan keputusan. Ini membuat politik makin tercekik. Karena itu, tiada lagi ”seni dan kreativitas berpolitik” untuk mengimbangi persaingan yang gila-gilaan dalam bisnis. Tak jelas lagi, mana politik kanan, mana politik kiri, mana pemerintah, mana oposisi.

Semuanya jadi sama karena sama-sama dicekik untung dan rugi perhitungan bisnis semata. Akibatnya, vitalitas demokrasi akan mati dan keanekaragaman kultural serta ideologi menjadi seragam. Seperti dalam negara, dalam sepak bola pun diperlukan politik. Maklum, politik itu menyimpan roh dan idealisme, yang bisa memberikan inspirasi dan menyulut spirit nasionalisme, yang kiranya juga harus ada dalam bola.

Seperti negara tanpa nasionalisme, demikian juga bola tanpa nasionalisme akan mudah terjerumus ke dalam krisis. Tanpa nasionalisme, sepak bola kehilangan roh dan identitasnya. Itulah sesungguhnya krisis yang diderita kesebelasan Belanda sekarang ini. Betapa pun kurang enak didengar, rivalitas Belanda dan Jerman dalam bola tak bisa dipisahkan dari rivalitas politik. Sejarawan Belanda, Thomas Snyder, pernah mengatakan, rivalitas keduanya adalah rivalitas yang paling beracun di dunia ini.

Pengarang keturunan Belanda, Simon Kuper, juga pernah menulis: ”Jika Belanda dan Jerman bermain sepak bola, bermain pula ingatan tentang Perang Dunia II dan agresi Jerman. Lapangan hijau menjadi medan pertempuran untuk mempertaruhkan harga diri. Setiap tembakan bola adalah peluru yang menusuk di hati pendukungnya. Apakah ini berlebih-lebihan? Sedikit pun tidak”.

Dulu tim Belanda selalu dihinggapi oleh perasaan itu. Lebih-lebih ketika sepak bola mereka berada di bawah rezim ”Sang Jenderal” Rinus Michels. Ketika Belanda mau ”bertempur” melawan Jerman di Piala Dunia 1974, Michels mengatakan, ”Saat ini adalah perang. Dan perang adalah perang. Baru Minggu sesudah pertandingan akan ada perdamaian.”

Mesiu emosional yang berasal dari ingatan politik itu tak meledak lagi ketika Belanda berhadapan dengan Jerman di Piala Eropa 2012. Mereka bermain sebagai profesional, tetapi kurang menampakkan diri sebagai ”nasionalis sejati”. Kritik inilah yang disampaikan, misalnya, oleh mantan pemain nasional Belanda, Adri van Tiggelen, kepada Robin van Persie.

”Van Persie menembakkan banyak gol di Liga Inggris. Namun, dalam tim ’Oranye’ prestasinya menyedihkan,” kata Van Tiggelen. Van Tiggelen kiranya ingin mengatakan, bermain dengan kostum oranye tidaklah cukup dengan modal profesionalisme belaka. Untuk itu, Van Tiggelen lebih memilih Klaas-Jan Huntelaar daripada Van Persie. Toh, Bert van Marwijk lebih memilih Van Persie. Mungkin dari segi ”realitas”, prestasi Van Persie amat gemilang. Namun, politik sepak bola kan tidak boleh memperhitungkan realitas belaka.

Kini Belanda hanyalah sebuah karikatur juara. Setelah Belanda dikalahkan Jerman, Rafael van der Vaart berhumor sinis, ”Saya bilang ’Nederland’, tetapi yang saya mau katakan sesungguhnya adalah nederlaag.” Nederlaag adalah kekalahan. Kini antara ”Nederland” dan nederlaag seakan tiada lagi beda.

”Belanda sulit menang. Kesebelasan kami mempunyai semua di tangannya. Kami termasuk dua atau tiga kesebelasan terbaik di Eropa. Kami yakin bisa menerobos ke perempat final,” kata Jose Mourinho membanggakan kesebelasan negaranya. Ia terkenal sebagai motivator yang mampu menggali hal-hal di luar bola untuk mengompori pasukannya demi kemenangan.

Salah satu pemain asuhannya adalah Pepe yang kini jadi tulang punggung Portugal. Pepe dikenal pemain yang keras. Ia pernah men-tackle keras Dani Alves dari Barcelona dan juga menginjak tangan Messi dengan sepatunya. Tak segan ia memaki wasit dengan kata-kata tak senonoh. Presidium Real Madrid pernah mempertimbangkan untuk menjual Pepe. Namun, Mourinho mempertahankannya. ”Dengan dia, saya dapat berangkat ke medan perang,” kata Mourinho. Itulah contoh bagaimana Mourinho membakar emosi anak-anaknya.

Kini bersama Pepe, Portugal berangkat ke medan perang melawan Belanda. ”Kans Belanda tinggal 12-13 persen,” kata Ruud Koning, profesor ekonomi-sport di Universitas Groeningen. Perkiraan ini dibuat Koning berdasarkan analisis statistik. ”Kansnya sangat kecil kami bisa melangkah terus,” kata Koning. Itulah realitas pahit Belanda. Hanya ”politik” di luar realitas itulah yang mungkin bisa mengalahkan realitas tersebut. Namun, masihkah Belanda mempunyainya?

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau