Kebersihan lingkungan

Warga DKI Didorong Membuat Bank Sampah

Kompas.com - 18/06/2012, 18:57 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com -- Upaya mengatasi persoalan sampah di ibu kota menuntut keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Salah satu cara agar masyarakat bisa berpartisipasi adalah dengan membuat bank sampah di lingkungannya dan aktif sebagai anggotanya.

Dengan bank sampah, masyarakat melakukan pemilahan dan pengumpulan sampah, dan mendayagunakan sampah yang masih mempunyai nilai manfaat.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, selain membangun berbagai fasilitas pengolahan sampah berbasis teknologi modern, Pemprov DKI Jakarta juga giat mengembangkan pengolahan sampah di sumber melalui kegiatan 3R (reduce, reuse, dan recycle). "Hal ini sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah," kata Fauzi, Senin (18/6/2012) di Jakarta.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta Eko Bharuna mengatakan, pengolahan sampah secanggih apapun di tempat pengolahan akhir (TPA) akan berkurang efektivitasnya jika sampah tidak dikelola sejak dari sumber. "Dengan adanya bank sampah, dan warga melakukan pemilahan, maka TPA akan efektif," kata Eko.

Saat ini di Jakarta sudah ada sekitar 300 bank sampah. Idealnya bank sampah ini terdapat di setiap RW dan kelurahan. Jadi jika di Jakarta ada 2.000 RW, maka harus ada 2.000 bank sampah.

Fauzi menjelaskan, salah satu skema kegiatan 3R yang efektif adalah Bank Sampah. "Masyarakat di kelurahan akan diberi insentif dalam bentuk dana bergulir. Ke depan, per kelurahan di Jakarta ditargetkan memiliki satu unit Bank Sampah," ujarnya.

Bank Sampah merupakan salah satu kegiatan 3R untuk memanfaatkan nilai ekonomis sampah dengan menerapkan mekanisme perbankan secara sederhana. Hal ini dalam upaya meningkatkan ekonomi masyarakat.

Caranya, masyarakat secara swadaya menyetor sampah terpilah ke Bank Sampah. Selanjutnya, sampah tersebut ditimbang dan dinilai ke rupiah. Meniru sistem bank, uang tersebut tidak langsung dibayarkan, akan tetapi dicatat ke dalam buku Tabungan Bank Sampah milik nasabah.

Bank Sampah yang cukup sukses di antaranya di RW 03 Kelurahan Rawajati, Kecamatan Pancoran, Jakarta Selatan. Bank Sampah yang di ketuai oleh Ibu Ninik Nuryanto ini diberi nama Tabung Sampah Kering (Tasake).

Tasake merupakan Bank Sampah Pionir di Indonesia dan menjadi contoh penerapan bank sampah di berbagai daerah. "Surabaya dan Makassar pernah belajar di tempah kami," ujar Ninik.

Menurut Ninik, semuanya bisa berajalan karena partisipasi aktif warga di kawasan tersebut. "Tidak hanya warga yang punya partisipasi cukup tinggi tetapi aparat pemerintah setempat juga cukup tanggap dengan keinginan warga," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau