Warisan budaya

Seniman Sumut Gelar Aksi Peduli Tor-tor

Kompas.com - 18/06/2012, 20:29 WIB

MEDAN, KOMPAS.com -- Sejumlah udayawan dan seniman menggelar diskusi dan pertunjukkan tor-tor dipadu dengan gondang sembilan Mandailing di Taman Budaya Sumatera, Senin (18/6/2012). Acara spontan ini merupakan bentuk kepedulian seniman dan budayawan terhadap tor-tor dan gondang sembilan.

Diskusi yang antara lain dihadiri Thomson Hutasoit, Dosen Sejarah Universitas Negeri Unimed Flores Tanjung, dan Budayawan Monang Butar Butar. Setelah itu, mereka menggelar gondang sembilan yang mengiringi tor-tor oleh tiga penari. Sesekali, budayawan menyelingi dengan orasi dan pembacaan puisi.

Kegiatan di halaman Taman Budaya Sumatera ini sempat memacetkan jalan. Tak kurang dari 100 warga berkumpul menonton.

"Kalau tor-tor dan gondang Mandailing diakui di Malaysia dan dikembangkan di sana, kita patut berterima kasih dan bersyukur. Tetapi kalau diklaim sebagai milik Malaysia, kita wajib memprotesnya," kata Monang.

Dia menjelaskan, gondang Mandailing adalah khas Mandailing. Kayu yang digunakan berasal dari pohon yang hanya bisa tumbuh di sekeliling Danau Toba.

Sebagaimana kabar yang tersiar bahwa Pemerintah Malaysia akan mengembangkan tor-tor dan gendang sembilan sebagai cabang warisan negara. Kesenian itu akan didaftarkan ke dalam seksi 67 Akta Warisan Kebangsaan 2005.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau