Medan Masih Aman Dari Kabut Asap

Kompas.com - 18/06/2012, 21:31 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Meskipun titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera Utara (Sumut) terus bertambah, keadaan ini dinilai masih aman dari ancaman kabut asap.

"Hotspot di selatan Sumut sudah terlihat di 19 titik. Kemarin jumlahnya hanya 5 titik," kata Kepala Bidang Data dan Informasi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah I Sumut Hendra Suwarta kepada wartawan, Senin (18/6/2012).

Dia menjelaskan, hotspot terbanyak terpantau di kawasan Riau. Di provinsi ini terdapat 67 titik panas. Peningkatan hotspot ini juga dipengaruhi tingginya suhu udara di Sumut dan sekitarnya. Hari ini suhu udara Medan sekitarnya tercatat 35 derajat Celsius.

"Suhu panas ini diperkirakan akan terus berlangsung, karena kita memasuki musim kemarau. Peluang hujan hanya terjadi malam hari," kata Hendra.

Ia mengatakan, ebakaran hutan yang terjadi di selatan Sumut dan kawasan Riau masih belum mengancam Kota Medan.

"Saat ini masih angin barat yang berembus. Jadi asap kebakaran hutan bergerak ke timur, yaitu kawasan Malaysia dan Singapura," paparnya.

Melihat arah angin, Medan sekitarnya baru akan terancam asap jika kebakaran hutan terjadi kawasan Sumatera Barat, Nanggroe Aceh Darussalam, atau bagian barat Sumatera Utara.

Terkait penerbangan, kata Hendra, kabut asap maupun cuaca ekstrem tidak perlu dikhawatirkan. "Soalnya, ada informasi khusus mengenai kondisi cuaca terkini yang diberikan kepada pilot," pungkasnya.

Sebelumnya, hampir seluruh warga Kota Medan mengeluhkan panas dan teriknya matahari pada sepekan terakhir ini. Pukul 08.00 pagi saja, panas dan gerah sudah terasa, walau diselingi angin.

BMKG menyatakan suhu udara di Medan sekitarnya mencapai titik tertinggi pada bulan ini. Suhu udara bahkan sempat menembus 37 derajat Celsius yang merupakan suhu tertinggi sejak 1977.

"Suhu Medan tertinggi pada bulan Juni mencapai 37 derajat. Ini tertinggi sejak tahun 1977," kata Hartanto, Kepala Seksi Pengolahan Data dan Informasi BMKG stasiun Polonia Medan.

Dipaparkannya, suhu udara siang hari di wilayah Sumatera Bagian Utara belakangan ini rata-rata 36 derajat Celcius. Suhu panas ini disebabkan pergerakan angin Muson Barat Daya yang bersifat kering sehingga menghambat pembentukan awan.

"Cuaca cerah dan sinar matahari langsung ke permukaan bumi," tambahnya.

Menurutnya, suhu panas tinggi ini akan berlangsung hingga sepekan ke depan.Tidak tertutup kemungkinan cuaca panas seperti beberapa hari belakangan akan berulang pada Juli mendatang. Potensi hujan turun juga cukup kecil.

"Kalaupun ada hujan, sifatnya hanya lokal," ucap Hartanto.

Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan api juga harus lebih hati-hati karena api akan dengan mudah menyala dan merambat di saat kelembaban udara rendah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau