Dunia Bersiap Tinggalkan ".com", Indonesia Tetap Pakai ".co.id"

Kompas.com - 19/06/2012, 14:09 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Dunia internet internasional telah bersiap meninggalkan domain yang berakhiran .com (dot com). Namun, Indonesia akan tetap mempertahankan akhiran domain .co.id (dot co dot id).

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menjelaskan, akhiran domain .com memang sudah menjadi aturan internasional. Begitu juga dengan akhiran "dot anything" yang selama ini marak dipakai oleh perusahaan terkemuka dunia.

"Kami akan melihat perkembangan selanjutnya, tetapi di dalam negeri kami menyarankan agar memakai akhiran domain .co.id (dot co dot id)," kata Tifatul dalam sambutan pembukaan acara World Stamp Champion 2012 di Jakarta Convention Center Jakarta, Senin (18/6/2012).

Meski tetap mendorong pemakaian domain berakhiran .co.id, pemerintah akan tetap menyesuaikan aturan sesuai standar internasional, yaitu standar yang dikeluarkan Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Kepala Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat Kemkominfo Gatot S Dewa Broto menambahkan, selama ini aturan tentang domain masih mengacu ke Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Namun, aturan tentang domain ini akan lebih diperjelas di Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Selanjutnya akan diperinci ke dalam Rancangan Peraturan Menteri (RPM) tentang domain secara lebih spesifik," tutur Gatot.

Sebenarnya, di RPP Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik tersebut, aturan tentang domain juga sudah disebutkan secara rinci. Termasuk soal aturan siapa yang berhak memegang nama domain, konsekuensi bila ada masalah, dan lain-lain.

Akan tetapi, pemerintah tidak mau gegabah dan lebih memilih menyempurnakan aturan lebih spesifik lagi sehingga diperlukan RPM tentang domain secara khusus.

"Kedua aturan tadi sekaligus akan melindungi keberadaan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi). Selama ini kami dan Pandi hanya berkoordinasi saja dan Pandi lebih ke soal teknis registrasi domain," jelasnya.

Namun saran Gatot, pengguna internet di Indonesia seharusnya memakai nama domain berakhiran .co.id untuk memudahkan identifikasi bahwa website atau blog tersebut adalah berasal dari Indonesia. Hal ini juga bisa mempermudah pelacakan apabila situs tersebut bermasalah di kemudian hari.

"Meski syarat untuk mengajukan domain berakhiran .co.id lebih rumit dari .com, akhiran domain tersebut akan mempermudah bahwa web atau blog tersebut berasal dari Indonesia," tuturnya.

Sekadar catatan, sejumlah perusahaan dunia telah bersiap meninggalkan akhiran domain dot com. Salah satunya adalah Google yang telah mengajukan akhiran domain .google (dot google), .YouTube, .Docs, dan .Lol.

Google mengklaim ingin menggunakan akhiran domain tersebut karena ingin membuat navigasi yang lebih mudah bagi penggunanya. Selain itu, pengajuan top level domains (TLD) ini untuk menambah merek dagang Google meski masih diperdebatkan.

Apa yang dilakukan Google ini sesuai dengan program Generic TLD dari ICANN. Generic TLD dikenal juga dengan dot anything, memungkinkan pemegang modal besar untuk memiliki akhiran sendiri pengganti .com.

Selain akan mematenkan TLD .YouTube dan .Docs, Google juga mengajukan TLD .Lol. Google menginginkan akhiran domain itu karena tidak ingin akhiran domain .com terlalu mendominasi.

"Ini adalah salah satu upaya melejitkan akhiran domain yang tidak biasa. Kami juga tidak ingin akhiran domain itu gagal, misalnya .biz dan .info," kata juru bicara Google.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau