Program Menkes Terkait Kondom Diprotes

Kompas.com - 19/06/2012, 17:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kebijakan Menteri Kesehatan (Menkes) Nafsiah Mboi terkait kampanye penggunaan kondom pada kelompok seks berisiko mendapatkan sorotan dari sebagian wakil rakyat di DPR. Kebijakan itu dituding oleh Fraksi Partai Keadilan Sejahtera malah melegalkan seks bebas.

"Kami sangat menyesalkan statement ibu Menkes yang mengatakan akan menggalakkan penggunaan kondom untuk kelompok seks berisiko, termasuk kepada remaja. Justru, dengan itu, pemerintah melegalkan seks bebas dengan alasan mensosialisasikan penggunaan kondom," kata anggota Komisi IX dari F-PKS, Herlini Amran, di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (19/6/2012).

Sebelumnya, Nafsiah mengatakan, kebijakan itu menjadi salah satu indikator penting untuk menurunkan kasus HIV/AIDS di Indonesia yang angkanya masih sangat tinggi. Maksud dari seks berisiko adalah setiap hubungan seks yang berisiko menularkan penyakit dan atau berisiko memicu kehamilan yang tidak direncanakan.

Menurut Nafsiah, kampanye ini menjadi penting, mengingat masih banyak kasus kehamilan yang tidak direncanakan terjadi pada anak-anak remaja. Terlebih lagi berdasarkan data BKKBN, ada sekitar 2,3 juta wanita dewasa muda yang melakukan aborsi karena melakukan hubungan seks di luar nikah. "Oleh karena itu, ada kampanye yang menyasar generasi muda 15-24 tahun," ujarnya beberapa waktu lalu.

Herlini mengatakan, semestinya pemerintah lebih meningkatkan penyuluhan program kesehatan reproduksi wanita bagi remaja usia di bawah 15 tahun lantaran masih jauh dari target yang dicanangkan sebesar 65 persen. Pada tahun 2011, kata dia, program itu hanya tercapai 11,4 persen.

Selain itu, dia melanjutkan, pemerintah harus meningkatkan sosialisasi kepada komunitas berisiko atau rentan. Pasalnya, kata dia, berdasarkan hasil survei perubahan perilaku yang dirilis Kemenkes, sebanyak 55 persen dari keseluruhan infeksi baru HIV dan kasus AIDS disebabkan oleh hubungan seks heteroseksual.

"Kunci menurunkan angka aborsi 2,3 juta remaja setiap tahunnya bukan dengan memudahkan penggunaan kondom kepada remaja. Justru, yang perlu ditingkatkan adalah sosialisasi program kesehatan reproduksi kepada remaja dan mengampanyekan larangan seks bebas di luar nikah. Bagaimanapun, peran agama menjadi hal yang tidak bisa diabaikan sehingga masalah ini dapat terselesaikan dari hulu sampai hilirnya," pungkas Herlini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau