14 Warga Tertimbun Longsor di Ambon

Kompas.com - 20/06/2012, 02:54 WIB

AMBON, KOMPAS - Hujan deras selama satu jam memicu tanah longsor di Ambon, Maluku, Selasa (19/6) dini hari. Sebanyak 14 orang tertimbun. Dua di antaranya selamat, tujuh ditemukan tewas, sedangkan lima lainnya masih dicari.

Sebelumnya, kejadian serupa tanggal 27 Mei 2012, menelan delapan korban jiwa. Lokasinya pun hampir sama, Kelurahan Kuda Mati dan Karang Panjang, pusat kota Ambon. Dengan demikian, dalam kurun Mei-Juni ini total korban yang tewas akibat tanah longsor di area perbukitan itu mencapai 15 orang.

Peristiwa terakhir menerpa dua rumah di RT 3 RW 4 Karang Panjang, Kecamatan Sirimau. Tebing setinggi 30 meter longsor sekitar pukul 03.00 WIT. Longsor menimbun dua rumah yang dihuni keluarga Manusiwa dan Fun.

Suara yang bergemuruh sempat membangunkan warga di sekitar lokasi longsor. Mereka langsung berdatangan ke lokasi dan mencoba mencari penghuni rumah yang sudah tertimbun longsor. Upaya pencarian menemukan dua warga dalam kondisi masih hidup. Keduanya kemudian dilarikan ke rumah sakit. Tiga lainnya sudah tewas.

Setelah itu, tim SAR, tentara, dan polisi ikut membantu mencari penghuni rumah yang masih tertimbun. Dua ekskavator dikerahkan untuk membantu pencarian sejak Selasa siang.

Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, dan Wakil Wali Kota Ambon Sam Latuconsina, sempat terjun ke lokasi.

Pencarian hingga pukul 19.00 WIT telah menemukan lagi empat penghuni rumah tertimbun material longsoran setinggi tiga meter, dalam kondisi sudah tewas. ”Lima penghuni rumah lainnya masih terus kami cari,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon Tjokro Broery. Pencarian tetap dilakukan meski malam hari. Lampu-lampu berukuran besar dipasang untuk membantu pencarian.

Salah satu warga yang juga kerabat dari keluarga Manusiwa, J Rahayaan, mengatakan, beberapa pekan lalu, tebing di belakang rumah keluarga Manusiwa dan Fun terlihat retak. Kondisi ini sudah diberitahukan pada kedua keluarga itu sekaligus memperingatkan mereka bahwa tebing itu terancam longsor.

Hal ini pula yang membuat kedua keluarga itu biasa mengungsi saat hujan deras. Mereka mengungsi ke rumah-rumah tetangga yang aman dari longsor bersama warga lainnya di RT 3 RW 4 yang rumahnya juga berada di lereng tebing.

”Namun, saat hujan deras Selasa dini hari, mereka tidak mengungsi. Saya sudah coba telepon mereka, tetapi tidak diangkat. Kemungkinan mereka sudah tertidur lelap. Tak lama setelah saya mencoba telepon, longsor terjadi,” ujar Rahayaan.

Tjokro Broery menambahkan, pihaknya telah berulangkali mengingatkan warga yang tinggal di lereng tebing dan bantaran sungai untuk waspada bencana longsor dan banjir saat musim hujan. Musim hujan di Ambon terjadi pada Mei sampai Agustus.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengatakan, ratusan rumah di Ambon dibangun tanpa sesuai tata ruang. Daerah-daerah yang seharusnya tidak dibangun rumah karena berada di daerah rawan bencana justru dibangun rumah. Karena itu, rumah-rumah tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Bangunan di daerah rawan bencana dipertimbangkan untuk direlokasi. (APA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau