Sebelumnya, kejadian serupa tanggal 27 Mei 2012, menelan delapan korban jiwa. Lokasinya pun hampir sama, Kelurahan Kuda Mati dan Karang Panjang, pusat kota Ambon. Dengan demikian, dalam kurun Mei-Juni ini total korban yang tewas akibat tanah longsor di area perbukitan itu mencapai 15 orang.
Peristiwa terakhir menerpa dua rumah di RT 3 RW 4 Karang Panjang, Kecamatan Sirimau. Tebing setinggi 30 meter longsor sekitar pukul 03.00 WIT. Longsor menimbun dua rumah yang dihuni keluarga Manusiwa dan Fun.
Suara yang bergemuruh sempat membangunkan warga di sekitar lokasi longsor. Mereka langsung berdatangan ke lokasi dan mencoba mencari penghuni rumah yang sudah tertimbun longsor. Upaya pencarian menemukan dua warga dalam kondisi masih hidup. Keduanya kemudian dilarikan ke rumah sakit. Tiga lainnya sudah tewas.
Setelah itu, tim SAR, tentara, dan polisi ikut membantu mencari penghuni rumah yang masih tertimbun. Dua ekskavator dikerahkan untuk membantu pencarian sejak Selasa siang.
Wakil Gubernur Maluku Said Assagaf, Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, dan Wakil Wali Kota Ambon Sam Latuconsina, sempat terjun ke lokasi.
Pencarian hingga pukul 19.00 WIT telah menemukan lagi empat penghuni rumah tertimbun material longsoran setinggi tiga meter, dalam kondisi sudah tewas. ”Lima penghuni rumah lainnya masih terus kami cari,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ambon Tjokro Broery. Pencarian tetap dilakukan meski malam hari. Lampu-lampu berukuran besar dipasang untuk membantu pencarian.
Salah satu warga yang juga kerabat dari keluarga Manusiwa, J Rahayaan, mengatakan, beberapa pekan lalu, tebing di belakang rumah keluarga Manusiwa dan Fun terlihat retak. Kondisi ini sudah diberitahukan pada kedua keluarga itu sekaligus memperingatkan mereka bahwa tebing itu terancam longsor.
Hal ini pula yang membuat kedua keluarga itu biasa mengungsi saat hujan deras. Mereka mengungsi ke rumah-rumah tetangga yang aman dari longsor bersama warga lainnya di RT 3 RW 4 yang rumahnya juga berada di lereng tebing.
”Namun, saat hujan deras Selasa dini hari, mereka tidak mengungsi. Saya sudah coba telepon mereka, tetapi tidak diangkat. Kemungkinan mereka sudah tertidur lelap. Tak lama setelah saya mencoba telepon, longsor terjadi,” ujar Rahayaan.
Tjokro Broery menambahkan, pihaknya telah berulangkali mengingatkan warga yang tinggal di lereng tebing dan bantaran sungai untuk waspada bencana longsor dan banjir saat musim hujan. Musim hujan di Ambon terjadi pada Mei sampai Agustus.
Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengatakan, ratusan rumah di Ambon dibangun tanpa sesuai tata ruang. Daerah-daerah yang seharusnya tidak dibangun rumah karena berada di daerah rawan bencana justru dibangun rumah. Karena itu, rumah-rumah tersebut tidak memiliki izin mendirikan bangunan. Bangunan di daerah rawan bencana dipertimbangkan untuk direlokasi.