Banjir Jakarta Bukti Gagalnya Politik Tata Ruang

Kompas.com - 20/06/2012, 18:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Banjir merupakan salah satu masalah Jakarta selain kemacetan lalu lintas yang terus dicari solusinya oleh tiap pemimpin ibukota. Namun pada kenyataannya, kondisi geografis Jakarta memang berpotensi terjadi banjir.

Pengamat perkotaan, Yayat Supriatna, mengatakan bahwa banjir yang terjadi di Jakarta sebenarnya dapat diminimalisir meski secara geografis rentan terhadap banjir. Permasalahannya saat ini pengaturan tata ruang di Jakarta cukup lemah sehingga berakibat banjir kian parah.

"Jakarta ini lemah politik tata ruangnya. Padahal rencana tata ruang wilayah sudah dibahas oleh anggota dewan," kata Yayat, saat diskusi tentang Banjir Jakarta: Persoalan Lingkungan atau Politik? di Indonesian Institute, Jakarta, Rabu (20/6/2012).

Ia menjelaskan bahwa politik tata ruang di Jakarta ini tidak berjalan karena ada disfungsi negara. Ia menilai bahwa negara telah gagal untuk menyejahterakan rakyatnya sehingga lalai pada penataan tata ruang yang berakibat bencana.

"Ini terjadi di level nasional dan juga di level daerah. Untuk masalah banjir Jakarta ini kan butuh kerja sama pemerintah daerah dan pemerintah pusat," ujar Yayat.

Ia menegaskan bahwa bencana banjir yang terjadi ini sebenarnya adalah bukti terjadinya kegagalan politik tata ruang dalam menjaga dan melindungi fungsi ekosistem lingkungan. Selain itu, kegagalan politik tata ruang karena hambatan institusional dalam penyelenggaraan tugas pemerintahan di bidang penataan ruang.

"Banjir memang sudah terjadi sejak lama. Kalau nggak mau kebanjiran jangan tinggal di Jakarta. Masalahnya gagalnya politik tata ruang makin memperparah bencana ini," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau