KOMPAS.com - Harga bahan bakar gas (BBG) menanjak sementara tarif buka pintu rendah plus makin banyaknya bus umum dan kereta bawah tanah mengancam keberadaan taksi di Korea Selatan. Alhasil, para pengemudi pun berunjuk rasa menuntut perhatian pemerintah lantaran merasa seolah tersingkir.
Menurut warta Xinhua pada Rabu (20/6/2012), sekitar 220.000 dari 255.581 sopir taksi berlisensi di Negeri Ginseng memilih bergabung dalam unjuk rasa itu, kata Kementerian Urusan Jalan Darat, Transportasi, dan Maritim Korsel. Serikat Pekerja Taksi Korsel mengatakan saat ini pengguna jasa mereka berkurang. Sudah begitu, harga BBG terlalu tinggi.
Serikat itu mengatakan sejak empat tahun silam kenaikan harga BBG sekitar 50 persen dari harga awal. Sejak 2009, harga BBG 2.400 won atau setara dengan 2,08 dollar AS per liternya.
Sementara, serikat mengeluhkan jam beroperasi bus umum hingga pukul 2 dini hari. Khususnya di Seoul dan Busan. "Layanan hingga jam 2 dini hari memang memudahkan warga komuter," kata kementerian.
Menurut rencana, serikat pekerja akan berunjuk rasa kembali untuk kali kedua pada Oktober mendatang. "Unjuk rasa besar-besaran berikutnya pada Desember kalau tuntutan kami tak mencapai kata sepakat dengan pemerintah," kata pernyataan serikat pekerja.