Polisi Mimika Diminta Arif Sikapi Perang Antar Kampung

Kompas.com - 20/06/2012, 22:16 WIB

JAYAPURA, KOMPAS.com - Aparat Kepolisian Resor Mimika, Kabupaten Mimika, Papua, diminta bersikap bijak dan arif dalam menyikapi perang antarkampung di daerah tersebut.

Penerima penghargaan Yap Thiam Hien Award 2009, Pastor Jhon Jongga, Pr menilai kenetralan pihak keamanan sangat diharapkan dalam menyikapi dinamika permasalahan perang antarkampung di Timika, Kabupaten Mimika yang telah terjadi sejak bulan lalu dan mulai pekan kemarin kembali memanas.

"Kalau bisa polisi di Timika, bersikap bijak dan arif. Jangan langsung menembak warga, tetapi berikan tembakan peringatan dan melumpuhkan bukan sebaliknya," kata pastor asal Kupang, NTT itu di Jayapura, Papua, Rabu (20/6/2012).

Menurut dia, pihak Polda Papua juga jangan tinggal diam, dan harus melakukan evaluasi terhadap kinerja anggotanya dalam penanganan konflik, terutama di daerah yang jauh dari jangkauan Polda.

Sehingga, dalam menghadapi konflik horisontal di tengah warga tidak mengedepankan kekerasan tetapi lebih mengedepankan sikap melindungi dan mengayomi.

"Warga antarakampung di suatu daerah di Mimika memang telah berperang sejak pekan kemarin. Lalu ada polisi yang mencoba menengarai ataupun meredam hal itu, tapi yang ada malah ada warga sipil yang kena tembak polisi," katanya.

Dalam bentrok antarkampung di Timika pada Sabtu (16/6) pekan lalu, dilaporkan dua warga sipil diduga kena tembak aparat kepolisian setempat, yakni Domin Ongomang (27) terkena di bahu, dan Adelias Ongomang (22) tertembak di kepala.

Seperti diberitakan sebelumnya, perang antarkampung yang terjadi di kawasan Kwamki Lama, Timika, antara Kampung Harapan dan Kampung Amole hingga saat ini terus berlangsung, tercatat satu warga tewas pada Rabu bernama Inus Magai.

Data yang dihimpun Antara di Jayapura, Rabu, mengungkapkan, perang atau pertikaian antara kedua kampung itu sudah berlangsung sejak bulan Mei lalu yang diawali tewasnya warga Kampung Harapan (atas) akibat kecelakaan lalu lintas dan diduga pelakunya berasal dari Kampung Amole (tengah).

Namun awal bulan Juni lalu, kedua kubu sepakat mengakhiri perang dengan melakukan prosesi adat patah panah. Akan tetapi sejak Senin (18/6/2012) kedua kubu kembali berperang, bahkan dalam aksinya Selasa (19/6/2012) empat anggota polisi mengalami luka-luka serta kendaraan dinas yang digunakan dibakar dan dirusak.

Kabid Humas Polda Papua, AKBP Yohannes Nugroho ketika dihubungi Antara membenarkan terjadinya kembali kasus perang antara kedua kampung sejak Rabu pagi (20/6) hingga menewaskan satu warga dari Kampung Harapan (atas).

Selain itu tercatat 11 warga kampung Harapan terluka akibat terpanah, sedangkan dari kampung Amole empat warganya terluka dalam insiden tersebut, kata Kabid Humas Polda Papua AKBP Yohannes Nugroho.

"Untuk korban dari warga sipil, waktu itu kita diserang. Ada beberapa mobil yang dibakar dan ada empat anggota terluka karena dipanah. Sehingga untuk membela diri, anggota menembak," ujarnya.

Ia juga mengatakan, pihaknya tidak memihak kepada salah satu kampung yang bertikai, tapi hanya ingin menengahi agar masalah tersebut bisa diredam, tapi malah sebaliknya anggota diserang.

"Polisi tidak memihak, yang kita lakukan adalah bagaimana mengamankan. Jumlah warga yang bertikai juga lebih banyak dari aparat sehingga agak sulit untuk mencegah hal ini tidak terulang atau meluas. Tapi kami akan terus berupaya untuk hentikan," katanya.

Kedua kampung yang bertikai itu terletak di kawasan Kwamki Lama, yang berjarak sekitar 20 KM dari kota Timika, ibukota Kabupaten Mimika.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau