Miami, Selasa -
Salah satu tato di belakang tangan kanannya bertuliskan quickness dan confidence. Kedua kata tersebut yang kerap diingatkan neneknya, yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Chalmers.
Pada gim keempat babak final NBA Miami Heat versus Oklahoma City Thunder di AmericanAirlines Arena, Miami, Selasa (19/6) malam, bermodalkan dua kata itu Chalmers menjadi ”jembatan emas” Heat untuk meraih gelar jawara NBA 2012.
Selama 48 menit pertarungan yang dimenangkan Heat dengan skor 104-98, ketika laga tersisa 44,6 detik, terjadi drama yang menghadirkan Chalmers sebagai tokoh utama.
Saat time out yang diminta Scott Brooks, arsitek Thunder, Heat unggul 99-96. Namun, LeBron James yang membuat tembakan tiga angka harus diganti James Jones karena mengalami kram di kaki kiri.
Ketika laga berlanjut, Chalmers menunjukkan kecepatan dan kepercayaan dirinya lewat aksi layup yang dapat memperbesar selisih poin Heat atas Thunder dengan skor 101-96.
Chalmers memupus harapan Thunder setelah menambah tiga poin lagi melalui lemparan bebas. Dua poin pertama didapat setelah kesalahan Russell Westbrook, point guard Thunder. Westbrook malam itu menjadi pencetak poin terbanyak sepanjang laga final NBA 2012. Westbrook yang ikut meraih medali emas pada Kejuaraan Dunia FIBA 2010 AS itu menyumbang 43 poin, 5 asis, dan 7 rebound. Hasilnya Thunder unggul 49-46 setelah kuarter kedua.
Satu poin terakhir, kala laga tinggal 0,10,6 detik, tercipta setelah kesalahan James Harden. Jadi, dengan 25 poin, 3 asis, dan 2 rebound, Chalmers membuktikan diri sebagai ”jembatan emas” Heat untuk menjadi juara NBA musim ini.
Kemenangan 104-98 menjadikan Heat unggul agregat 3-1. Jadi, tinggal satu kemenangan pada gim kelima di AmericanAirlines Arena, Kamis (21/6) malam waktu Amerika Serikat, Heat bakal meraih gelar NBA keduanya setelah juara musim 2006.
Erik Spoelstra, pelatih yang juga mengantar Heat menjadi jawara NBA 2006, memuji Almario Vernard Chalmers. Begitu nama lengkap Chalmers yang pada 19 Mei lalu berusia 26 tahun.
”Dia tidak pernah takut dengan kondisi permainan seperti apa pun. Kami semua tahu itu. Dia sungguh gagah berani,” ujar Spoelstra.
Selain itu, dia juga sangat percaya diri. Hal itu terbukti dari aksinya setiap kali bermain. ”Semua itu sudah terukur,” kata Spoelstra.
Momen ketika Chalmers muncul sebagai kunci kemenangan bukan hanya pada gim keempat final NBA 2012. Chalmers juga menikmati berada di puncak ketika mengantar UCLA menjadi juara NCAA Championship 2008.
Senior Chalmers, Dwyane Wade, shooting guard dengan tinggi 1,93 meter, juga memujinya. ”Ini merupakan bagian dari DNA di tubuhnya. Dia terlahir untuk menjadi seperti yang kita saksikan saat ini.”
”Bahkan, boleh dibilang, tongkat kopling berada di tangannya. Jadi, dia juga yang dapat menentukan kapan waktu yang tepat untuk meningkatkan kecepatan,” ujar Wade.