Massa Kembali ke Jalan

Kompas.com - 23/06/2012, 02:22 WIB

Kairo, Kompas - Ikhwanul Muslimin dan militer Mesir, Jumat (22/6), semakin saling unjuk kekuatan menjelang pengumuman hasil final pemilihan presiden putaran kedua, yang dijadwalkan hari Minggu besok.

Ikhwanul Muslimin (IM) mengeluarkan instruksi kepada semua kantor cabang IM di seluruh Mesir untuk mengerahkan massa menuju Alun-alun Tahrir di Kairo dan alun-alun di kota-kota lain guna berunjuk rasa secara terbuka. Kemah-kemah tempat menginap para pengunjuk rasa kembali bermunculan di Alun-alun Tahrir.

Sejumlah kekuatan politik lain, seperti Gerakan Pemuda 6 April, Koalisi Pemuda Revolusi, Sosialis Revolusioner, dan gerakan islamis Salafi ikut berunjuk rasa bersama IM. Demikian dilaporkan wartawan Kompas Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir.

Sebaliknya, militer mengerahkan kendaraan pengangkut pasukan dan kendaraan lapis baja di beberapa jalan utama di Kairo dan kota-kota lain.

Militer melakukan pengamanan ketat terhadap gedung-gedung pemerintah, penjara-penjara, kantor-kantor polisi, bandar udara, dan pelabuhan.

Sumber militer mengancam akan memberlakukan larangan keluar rumah jika terjadi anarki setelah pengumuman hasil final pemilihan presiden (pilpres) putaran kedua.

Komisi Tinggi Pemilu Mesir telah menunda pengumuman hasil final itu dari hari Kamis menjadi hari Minggu untuk mendapat waktu lebih banyak lagi dalam memeriksa surat pengaduan yang diajukan dua calon presiden (capres) yang bertanding itu.

Sekretaris Jenderal Komisi Tinggi Pemilu Hatem Begato mengungkapkan, KPU kini tengah memeriksa 440 surat pengaduan terkait pelaksanaan pemilu dari kedua capres.

Ia mengatakan, berita yang beredar saat ini tentang kemenangan capres tertentu dan kekalahan capres yang lain adalah tidak benar, dan pihaknya juga tidak terperangkap dengan angka-angka yang beredar saat ini.

Begato menegaskan, hanya hasil penghitungan Komisi Tinggi Pemilu sebagai satu-satunya hasil yang sah dan bisa dijadikan pegangan.

Capres Ahmed Shafik dalam temu pers, Kamis malam, menegaskan, sesuai dengan hasil penghitungan dan pemantauan tim kampanyenya, Shafik percaya dia akan menjadi presiden Mesir. Namun, lanjutnya, dia akan tetap menunggu apa yang disampaikan dan menghormati apa pun hasil akhir yang diumumkan Komisi Tinggi Pemilu.

Pilihan sulit

Para analis menyebut IM menghadapi pilihan sulit dalam pertarungan dengan militer saat ini. Jika komisi pemilu memenangkan Shafik dan IM memilih melakukan anarki, tak menutup kemungkinan skenario tahun 1954 terulang lagi, yakni rezim militer membubarkan IM dan menangkap para pimpinan IM.

Namun, jika komisi pemilu memenangkan Muhammad Mursi, capres dari IM, pilihan IM selanjutnya juga tidak mudah jika mereka tetap menolak deklarasi konstitusi baru yang diumumkan militer.

Pertarungan IM-militer akan terus berlanjut karena IM dan Mursi akan menolak mengambil sumpah jabatan di depan Mahkamah Tinggi Konstitusi (MK) seperti yang ditetapkan deklarasi konstitusi baru.

Sementara jika IM menerima deklarasi konstitusi baru, kekuatan-kekuatan politik lain akan menuduh IM dan Mursi berkhianat terhadap revolusi dengan imbalan jabatan presiden.

Sebanyak 18 LSM yang bergerak di bidang HAM di Mesir menyerukan Dewan Agung Militer (SCAF) menggelar referendum untuk meminta pendapat rakyat atas deklarasi konstitusi baru, sebagai solusi atas krisis politik saat ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau