Industri

Harga Gula di Pasar Lelang Mulai Turun

Kompas.com - 23/06/2012, 02:56 WIB

Surabaya, Kompas - Harga gula di pasar lelang di Jawa Timur mulai turun dalam sepekan terakhir. Penurunan itu diduga disebabkan oleh meningkatnya gula produksi pabrik pada musim giling tahun 2012 yang dilepas ke pasar umum. Petani tebu khawatir harga gula akan menyentuh harga dasar sehingga mengakibatkan kerugian yang besar.

General Manager Marketing PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI Adig Suwandi mengatakan, sinyalemen kecenderungan harga gula yang terus turun tecermin dalam pasar lelang. Pada lelang 3.000 ton gula milik PTPN XI di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (22/6), penawaran harga tertinggi hanya mencapai Rp 10.725 per kilogram.

”Akibatnya, lelang itu terpaksa dinyatakan batal karena harga yang terbentuk tidak sesuai dengan harapan. PTPN XI menunda pelaksanaan lelang dengan harapan harga akan membaik seperti saat awal musim giling lalu,” ujarnya.

Sebelumnya, pada lelang yang dilaksanakan tanggal 14 Juni 2012, harga gula yang terbentuk mencapai Rp 11.835 per kg. Harga ini merupakan rekor tertinggi capaian harga di pasar lelang selama musim giling 2012. Saat itu, PTPN XI menawarkan 1.500 ton gula milik petani dan milik sejumlah pabrik gula.

Setelah itu, PTPN XI kembali mengadakan lelang, tepatnya tanggal 19 Juni 2012. Dalam tender gula sebanyak 2.000 ton itu, harga yang terbentuk hanya mencapai Rp 11.530 per kg atau turun Rp 305 per kg. Selang satu hari kemudian, PTPN XI kembali menggelar tender untuk 5.698 ton gula produksinya. Akan tetapi, harga yang terbentuk tinggal Rp 11.100 per kg atau turun Rp 205 per kg.

Adig mengatakan, selain meningkatnya pasokan gula, penurunan harga gula di pasar lelang juga dipicu oleh ada isu masuknya gula eks pengolahan row sugar impor ke pasar konsumsi. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah melakukan pengawasan dan menghentikan kebocoran gula impor ke pasar gula konsumsi pada saat musim giling seperti ini.

Sementara itu, kecenderungan menurunnya harga gula di pasar lelang membuat petani tebu di Madiun, Jawa Timur, khawatir. Mereka terancam tidak dapat menikmati hasil tanaman yang dibudidayakan selama 14 bulan karena harga jual berada di bawah biaya produksi tebu.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Pabrik Gula Pagotan Madiun Mujiono mengatakan, dengan harga gula Rp 10.700 atau bahkan Rp 11.000 per kg, petani belum dapat menikmati keuntungan karena rendemen masih di bawah 7,3 persen. Idealnya, rendemen tebu berada di atas 7,5 persen dan harga lelang gula mencapai Rp 12.000 per kg. Alasannya, komponen biaya produksi tebu tinggi, seperti biaya bibit, upah pekerja, pupuk, tebang, angkut, dan sewa tanah.

Akan tetapi, harga gula kristal putih petani tebu di Kabupaten Kudus, Pati, Rembang, dan Jepara, Jawa Tengah, saat ini mencapai Rp 11.500 per kg. Kondisi ini mendorong kenaikan harga gula pasir di pasaran dari yang semula Rp 9.000-Rp 10.500 per kg naik menjadi Rp 12.500-Rp 12.700 per kg.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Wilayah Eks Keresidenan Pati Kuslan mengatakan, harga lelang memang tinggi. (NIK/HEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau