Pemkab Mimika Didesak Damaikan Warga

Kompas.com - 23/06/2012, 15:40 WIB

TIMIKA, KOMPAS.com — Pertikaian warga Kampung Harapan dan Kampung Amole di Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Ratusan warga dari dua kampung bertikai, seakan tak kenal lelah, untuk saling serang sehingga korban pun terus berjatuhan. Enam orang tewas dan lebih dari 100 warga dari dua kampung terluka, sejak berlangsungnya pertikaian kampung, 2 Juni lalu.

Imbauan aparat gabungan Polri dibantu TNI yang berjaga di Jalan Kanguru untuk tidak saling serang tidak dihiraukan warga. Mereka tetap saling serang.

Berlarutnya bentrokan warga di Distrik Kwamki Narama menjadi keprihatinan sejumlah pihak yang khawatir bentrokan meluas dan semakin banyak korban jiwa.

Athanasius Allo Rafra, anggota DPRD Mimika Komisi A, mendesak bupati dan wakil bupati selaku pimpinan Pemkab Mimika harus turun ke Kwamki Narama untuk mendamaikan warga bertikai.

“Masyarakat yang sering berkonflik ini menginginkan kehadiran pemerintah di tengah-tengah mereka dan jangan pernah meninggalkan mereka,” tegas Allo Rafra.

Mantan caretaker Bupati Mimika ini menyayangkan lambannya pemerintah daerah melantik kepala distrik dan kepala kampung untuk menindaklanjuti keputusan pembentukan Distrik Kwamki Narama dan pemekaran kampung sejak 2010 lalu.

Menurut Allo, bentrokan tidak akan sebesar sekarang ini, dan bisa cepat ditangani jika sudah ada perwakilan pemerintah di tingkat distrik dan kampung. Selain itu, Allo mengingatkan pentingnya koordinasi muspida untuk menangani permasalahan daerah.

Hal senada juga diungkapkan Wilhelmus Pigai, tokoh masyarakat Kabupaten Mimika, yang menyatakan bahwa seharusnya pemerintah daerah malu dengan konflik yang terus berlangsung di Distrik Kwamki Narama.

Wilhelmus mendesak Bupati Mimika harus mengambil langkah-langkah konkret untuk menyelesaikan pertikaian secara tuntas. Jikalau menyerahkan penyelesaian masalah kepada warga, maka tidak akan pernah selesai.

“Bupati yang harus turun langsung untuk menyelesaikan permasalahan ini dan tidak perlu lagi membuat tim serta tidak membiarkan aparat kepolisian serta TNI yang menyelesaikan permasalahan ini,” tegas Wilhelmus Pigai.

Wilhelmus, selaku putra asli tujuh suku, mengingatkan warga asli Papua untuk meninggalkan cara lama, yaitu perang adat, dalam menyelesaikan masalah kemasyarakatan. Ia khawatir jika terus dibudayakan maka warga asli Papua akan habis.

Perang adat sudah ditinggalkan warga asli sejak kehadiran agama. Karenanya, ia berharap agar permasalahan kemasyarakatan bisa diselesaikan dengan hukum positif.

Anggota Komisi B DPRD Mimika ini mengingatkan pemerintah daerah untuk memberikan perhatian dalam bentuk program pembangunan yang melibatkan warga Distrik Kwamki Narama yang sering berkonflik sehingga setiap ada permasalahan sosial dapat cepat diselesaikan.

Hampir tiga pekan pertikaian warga Kampung Harapan dan Kampung Amole berlangsung, tetapi belum sekali pun kehadiran Bupati atau Wakil Bupati Mimika di lokasi pertikaian.

Bupati Mimika, Klemen Tinal, hanya berada di Timika saat kedatangan rombongan Menko Polhukam, sedangkan selebihnya berada di luar kota dan sibuk mengurus pencalonannya sebagai calon wakil gubernur Papua.

Guna mendamaikan warga bertikai, Kapolres Mimika Ajun Komisaris Besar Deny Siregar bersama Dandim 1710 Mimika Letkol (Inf) Christian Tehuteru hampir setiap hari berada di Jalan Kanguru, Kwamki Narama. Bersama tokoh agama setempat, mereka terus berupaya mempertemukan perwakilan warga, tetapi selalu menghadapi penolakan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau