Karyawan Pindad Jual Pistol ke Perampok

Kompas.com - 24/06/2012, 12:32 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Polda Metro Jaya meringkus kawanan perampok yang beraksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Setelah penyelidikan, terungkap bahwa senjata yang digunakan pelaku, didapat dari seorang karyawan pabrik senjata, PT Pindad berinisial AM (45).

Di sela-sela konferensi pers di Main Hall Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Minggu (24/6/2012), AM mengungkapkan, dirinya adalah salah satu karyawan Produksi Dua, bagian pengepakan perusahan yang memproduksi senjata tersebut. Ia sendiri telah bekerja di Pindad selama 23 tahun.

Keterlibatannya dalam aksi perampokan tersebut bermula saat ia berkenalan dengan AS, salah satu anggota TNI yang telah disersi, satu tahun lalu. Ia sama-sama aktif di salah satu komunitas penembak, Jatayu Air Soft Gun. Komunitas yang kerap berlatih di Senayan tersebut merupakan komunitas di bawah Persatuan Olah Raga Penembak Indonesia (Perbakin).

"Saya beli sama AS Rp 5 juta, saya jual sama HR Rp 10 juta. Tapi baru dibayar Rp 6 juta," ujar pria asal Kiara Condong, Bandung tersebut kepada Kompas.com.

HR sendiri merupakan salah satu dari lima perampok yang diringkus Polda Metro Jaya. Ia juga anggota dari Jatayu Air Soft Gun sejak setengah tahun lalu.

"Saya enggak tau kalau ternyata si HR itu perampok, saya tahunya dia punya showroom mobil. Kita sama-sama di Jatayu Air Soft Gun sejak satu tahun lalu," lanjut pria enam anak tersebut.

Ia mengaku tidak tahu-menahu bahwa pistol jenis FN yang dijual ke HR, digunakan untuk melakukan aksi perampokan dengan komplotannya. Ia hanya tahu pistol tersebut dijual hanya untuk keperluan latihan tembak-menembak. Ia pun menjual pistol tanpa peluru lengkap dengan surat-surat.

"Karena sudah kenal dekat, jadi ya percaya saja," lanjutnya.

Lima tersangka yang berhasil diringkus Unit Jatanras Polda Metro Jaya pada Kamis (21/6/2012) lalu adalah HR (36), AN (22), DS (20), MY alias Edi (38), AM (45). Satu tersangka berinisial RR (25) terpaksa ditembak karena berusaha melawan saat diringkus. Sementara AS, anggota TNI yang telah disersi tersebut, diketahui masih dalam pengejaran.

Mereka adalah kelompok perampok di 15 tempat di Jakarta, yang korbannya rata-rata nasabah bank. Tiga di antaranya ditangkap di Jakarta, lainnya ditangkap di Kuta (Bali), Palembang (Sumsel), dan Bandung (Jabar).

Barang bukti yang disita dari kelompok perampok ini antara lain 2 pucuk pistol kaliber 9, 50 butir peluru kaliber 9, sebuah mobil Daihatsu Xenia, sebuah Toyota Innova, dua mobil Honda Jazz dan empat buah sepeda motor. Lainnya, satu laptop, satu bilah sangkur, sejumlah telepon seluler, dan sejumlah paku.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau