Bintang redup

Van Persie, Anomali Dua Sisi

Kompas.com - 25/06/2012, 03:15 WIB

Sorotan tajam langsung mengarah ke sosok Robin van Persie setelah hasil memalukan yang ditorehkan Belanda pada penyisihan Grup B Piala Eropa 2012. Pemain Arsenal yang kualitasnya kerap disamakan dengan Marco van Basten itu hanya mencetak satu gol bagi tim ”Oranye”, finalis Piala Dunia 2010.

Gol itu dihasilkan saat Belanda diempaskan Jerman, 1-2. Van Persie membobol gawang Manuel Neuer pada menit ke-73 sekadar penegasan bahwa dia saat itu ada di lapangan.

Selebihnya Van Persie seperti tidak tahu harus berbuat apa di lini depan. Memang hal itu tidak sepenuhnya jadi kesalahan pemain berusia 28 tahun tersebut.

Pencetak gol terbanyak di Bundesliga, Klaas-Jan Huntelaar, bahkan tak menghasilkan satu gol pun buat Oranye. Pasalnya, penampilan Mark van Bommel, Nigel de Jong, dan Wesley Sneijder juga tidak maksimal.

Belanda seperti melupakan bahwa kolektivitas antarpemain adalah kunci sukses penampilan tim. Sebaliknya, mereka cenderung tampil untuk diri masing-masing.

Padahal, untuk mencetak gol, Van Persie butuh sokongan lancar dari tengah lapangan. Ini pula yang membuat Van Persie nyaris tak berguna saat Belanda ditekuk Denmark, 0-1, pada laga pembuka.

Rumus keterpaduan di antara pemain ini bernilai kekal sebagai jaminan keunggulan. Bahkan bagi tim dengan keunggulan teknis individu setiap pemainnya. Akan tetapi, ini tetap seperti anomali Van Persie. Pasalnya, ia baru saja mengemas 30 gol bagi ”The Gunners” untuk musim 2011/2012.

Hasil itu membuatnya berhak mendapatkan sepatu emas. Ia berada di atas pencapaian Wayne Rooney yang mengoleksi 27 gol hingga akhir musim.

Grafik permainan Van Persie yang tengah menanjak bersama tim asuhan Arsene Wenger itu juga yang digadang-gadang sejak awal bakal membawa Belanda juara.

Catatannya sejak bergabung bersama The Gunners mulai musim 2004/2005 relatif terus menanjak meski ia sempat mengalami masa sulit pada musim 2007/2008 dan musim 2009/2010. Ketika itu Van Persie yang sempat mengemas total 11 gol pada masing-masing musim sebelumnya (2006/2007 dan 2008/2009) memperlihatkan penurunan prestasi dengan hanya mendulang tujuh gol dan sembilan gol.

Setelah mencetak total 18 gol pada musim 2010/2011, Van Persie lalu mencapai puncak masanya bersama Arsenal. Ini mirip torehan Thierry Henry yang mencapainya pada musim 2003/2004 saat membawa Arsenal memuncaki Liga Inggris.

Legenda The Gunners itu memang punya kisah mirip Van Persie. Keduanya sama-sama beroperasi di sayap kiri sebelum diubah Wenger menjadi pendobrak dari tengah.

Namun, Van Persie dianggap lebih punya gaya dan kreativitas serangan. Lahir dari pasangan pelukis dan pematung, darah seni Van Persie terjejak di lapangan hijau, sekalipun kali ini, hal itu ternyata tak banyak membantu. (INK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau