Sorotan tajam langsung mengarah ke sosok Robin van Persie setelah hasil memalukan yang ditorehkan Belanda pada penyisihan Grup B Piala Eropa 2012. Pemain Arsenal yang kualitasnya kerap disamakan dengan Marco van Basten itu hanya mencetak satu gol bagi tim ”Oranye”, finalis Piala Dunia 2010.
Gol itu dihasilkan saat Belanda diempaskan Jerman, 1-2. Van Persie membobol gawang Manuel Neuer pada menit ke-73 sekadar penegasan bahwa dia saat itu ada di lapangan.
Selebihnya Van Persie seperti tidak tahu harus berbuat apa di lini depan. Memang hal itu tidak sepenuhnya jadi kesalahan pemain berusia 28 tahun tersebut.
Pencetak gol terbanyak di Bundesliga, Klaas-Jan Huntelaar, bahkan tak menghasilkan satu gol pun buat Oranye. Pasalnya, penampilan Mark van Bommel, Nigel de Jong, dan Wesley Sneijder juga tidak maksimal.
Belanda seperti melupakan bahwa kolektivitas antarpemain adalah kunci sukses penampilan tim. Sebaliknya, mereka cenderung tampil untuk diri masing-masing.
Padahal, untuk mencetak gol, Van Persie butuh sokongan lancar dari tengah lapangan. Ini pula yang membuat Van Persie nyaris tak berguna saat Belanda ditekuk Denmark, 0-1, pada laga pembuka.
Rumus keterpaduan di antara pemain ini bernilai kekal sebagai jaminan keunggulan. Bahkan bagi tim dengan keunggulan teknis individu setiap pemainnya. Akan tetapi, ini tetap seperti anomali Van Persie. Pasalnya, ia baru saja mengemas 30 gol bagi ”The Gunners” untuk musim 2011/2012.
Hasil itu membuatnya berhak mendapatkan sepatu emas. Ia berada di atas pencapaian Wayne Rooney yang mengoleksi 27 gol hingga akhir musim.
Grafik permainan Van Persie yang tengah menanjak bersama tim asuhan Arsene Wenger itu juga yang digadang-gadang sejak awal bakal membawa Belanda juara.
Catatannya sejak bergabung bersama The Gunners mulai musim 2004/2005 relatif terus menanjak meski ia sempat mengalami masa sulit pada musim 2007/2008 dan musim 2009/2010. Ketika itu Van Persie yang sempat mengemas total 11 gol pada masing-masing musim sebelumnya (2006/2007 dan 2008/2009) memperlihatkan penurunan prestasi dengan hanya mendulang tujuh gol dan sembilan gol.
Setelah mencetak total 18 gol pada musim 2010/2011, Van Persie lalu mencapai puncak masanya bersama Arsenal. Ini mirip torehan Thierry Henry yang mencapainya pada musim 2003/2004 saat membawa Arsenal memuncaki Liga Inggris.
Legenda The Gunners itu memang punya kisah mirip Van Persie. Keduanya sama-sama beroperasi di sayap kiri sebelum diubah Wenger menjadi pendobrak dari tengah.
Namun, Van Persie dianggap lebih punya gaya dan kreativitas serangan. Lahir dari pasangan pelukis dan pematung, darah seni Van Persie terjejak di lapangan hijau, sekalipun kali ini, hal itu ternyata tak banyak membantu.