Kekalahan Perancis, 0-2, dari Spanyol pada perempat final Piala Eropa 2012, Minggu (24/6) dini hari WIB, terbaca ketika Pelatih Perancis Laurent Blanc memasang lima bek untuk menahan gelombang serangan Spanyol dan tidak memainkan gelandang Samir Nasri sebagai ”starter”. Strategi bertahan itu menegaskan kekalahan di lini tengah dan depan.
Sebaliknya, partai melawan Perancis itu mematangkan strategi bermain rapat ala Spanyol. Strategi yang tidak saja membuat mereka tetap mendominasi penguasaan bola, tetapi juga membuat kans mencetak gol terbuka dilakukan pemain mana pun di lini depan.
Pilihan pemain yang diturunkan Blanc sebagai starter, dengan memasang Mathieu Debuchy, Adil Rami, Anthony Reveillere, Laurent Koscielny, dan Gael Clichy, yang semuanya adalah pemain belakang, menunjukkan dia memilih taktik defensif, yang oleh media Perancis bahkan disebut ultradefensif.
Di lini tengah dan depan, Blanc memasang Yohan Cabaye, Florent Malouda, Yann M’Vila, Franck Ribery, dan Karim Benzema, dengan harapan bisa mengandalkan serangan balasan melalui Ribery dan Benzema. Sayangnya, di lini tengah, baik Malouda maupun Cabaye gagal berperan sebagai penghubung antara lini belakang dan lini depan Perancis karena begitu kuatnya lini tengah Spanyol.
Pelatih Spanyol Vicente del Bosque pun kembali memilih tidak menurunkan seorang striker starter. Dia memilih memasang Cesc Fabregas dan mengistirahatkan Fernando Torres. Hal itu kemungkinan untuk mengukur lebih dulu kekuatan daya serang Perancis, sekaligus mengacaukan perhatian para bek Perancis dengan tidak adanya ”target man” di lini depan Spanyol.
Hasilnya, kecenderungan kedua tim tampil terbuka pada menit-menit awal babak pertama dimanfaatkan Andres Iniesta yang menusuk sisi kanan pertahanan Perancis pada menit ke-19. Bola lalu dioper kepada Jordi Alba yang sempat ditempel Debuchy.
Namun, dalam hitungan detik, Alba lolos dari Debuchy yang terjatuh dan dengan cermat mengirim umpan lambung kepada Xabi Alonso yang maju menyerang tanpa penjagaan dari sisi kiri gawang Perancis. Dengan tandukan ke pojok kanan gawang, Alonso pun memperdaya kiper Hugo Lloris, juga Clichy.
Konsistensi tim Spanyol bermain rapat di semua lini, yang kemudian diimbangi Perancis dengan juga bermain lebih rapat, membuat pertandingan lalu berjalan lebih imbang, dengan penguasaan bola oleh para pemain Spanyol pun mulai menurun.
”Kami mengontrol pertandingan meskipun kami tahu itu tidak akan mudah lagi melawan tim yang bertahan di dalam. Akan tetapi, menjadi lebih mudah setelah gol terjadi,” ungkap Alonso.
Harapan Blanc pada duet Benzema-Ribery kembali tidak terwujud. Benzema yang terbiasa menyerang bersama seorang tandem di klubnya, Real Madrid, tidak mampu menunjukkan kualitas individualnya yang di atas rata-rata.
Blanc pun kemudian memasukkan Samir Nasri dan Jeremy Menez pada menit ke-64 untuk memperkuat barisan penyerang Perancis dan membalas kekalahan 0-1.
Keduanya bisa membuat permainan Perancis lebih hidup di lini tengah dan depan. Untuk mengimbangi perubahan permainan Perancis itu, Del Bosque pun tidak menunggu lebih lama untuk menurunkan Pedro Rodriguez menggantikan David Silva pada menit ke-64 dan Torres menggantikan Fabregas, menit ke-67. Pada menit ke-84, Santi Cazorla menggantikan Iniesta.
Masuknya ketiga ”darah segar” semakin menghidupkan serangan Spanyol, tanpa mengubah permainan tim ”Matador” yang terus bermain rapat, dengan umpan-umpan pendek, serta pergerakan pemain yang aktif mencari ruang-ruang kosong.
Hasilnya pertahanan Spanyol tetap sulit ditembus Nasri, Ribery, ataupun Benzema. Sebaliknya, lini depan Spanyol semakin berbahaya. Sebuah umpan terobosan Cazorla kepada Pedro menjadi jawaban atas harapan Del Bosque. Serangan Pedro itu menghasilkan tendangan penalti setelah dia dijatuhkan Reveillere di kotak penalti. Alonso, yang menjadi algojo penalti itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan emas, 2-0.
Kemenangan Spanyol itu sekaligus menunjukkan kekuatan tim pilihan Del Bosque yang merata di semua lini sehingga tidak menyulitkan sang pelatih untuk memilih siapa yang menjadi starter dan siapa yang menjadi cadangan. Singkat kata, Del Bosque sungguh telah berhasil menyatukan kekuatan tim Matador.