Bagus Takwin dan Niniek L Karim
Hampir semua aspek dari kelompok kompetensi kepemimpinan transformasional dimilikinya. Ia merencanakan program yang akan menyelesaikan masalah Jakarta hingga tahun 2050.
Namun, visinya tentang Jakarta kurang mendapat publikasi karena ia sendiri jarang menyampaikannya secara jelas kepada publik. Fauzi juga selalu mencari kesempatan-kesempatan baru bagi Jakarta, tetapi kurang mampu menginspirasi orang lain untuk berkomitmen dengan rencana dan mimpi masa depan Jakarta.
Sebagai pemimpin, Fauzi Bowo menyediakan tingkah laku-model yang memadai, memberi contoh ”melakukan” ketimbang hanya ”mengatakan”. Ia mendorong penerimaan terhadap tujuan kelompok dengan secara rutin mengunjungi warganya. Kepada bawahannya, ia mempromosikan spirit kerja sama untuk mencapai tujuan. Ia merangsang dan mendorong bawahannya aktif, bersemangat, dan berinisiatif.
Dalam rangka mencapai tujuan Jakarta berdasarkan indikator yang ditentukannya, ia menuntut bawahannya menampilkan kinerja terbaik. Ekspektasinya tinggi dan menuntut kualitas kinerja yang bagus meskipun toleransinya terhadap ketidakberhasilan masih tergolong tinggi.
Dalam keseharian tugasnya, Fauzi menyediakan dukungan terhadap anak buahnya secara individual, hormat, serta peduli terhadap perasaan dan kebutuhan mereka. Namun di hadapan publik, ia terkesan datar dan tak hangat sehingga terkesan tak mempertimbangkan perasaan orang lain dan kurang mementingkan hubungan interpersonal.
Kekuatan Fauzi yang juga menonjol adalah mampu menggugah dan menantang bawahannya untuk memeriksa kembali asumsi mereka tentang pekerjaan dan memikirkan bagaimana pekerjaan itu dapat dilakukan. Ia mengajukan pertanyaan yang membuat bawahannya berpikir untuk melakukan pekerjaan dengan cara lebih baik.
Dalam kompetensi kerja sama, Fauzi Bowo kurang menonjol. Kemampuan untuk mengembangkan kerja sama saat berpartisipasi dalam kelompok tak begitu terlihat. Ia cenderung enggan menanggapi kritik, keluhan, ataupun opini yang dianggapnya tak berdasar.
Dia tipe pemikir yang lebih suka bekerja sendiri dengan kerangka pikirnya. Walau selalu bekerja menuju solusi yang bermanfaat bagi semua pihak, ia kurang optimal mengumpulkan masukan dari pihak yang terkena dampak program.
Fauzi lebih percaya kepada ahli daripada berusaha menemukan area persetujuan untuk membangun konsensus. Ketika bekerja dengan para pihak yang berkonflik, ia akan menggunakan aturan formal untuk menyelesaikannya.
Mampu menyimak berbagai sudut pandang dan selalu menuntut argumentasi logis-komprehensif dari pemberi masukan. Tampaknya, dia tak tahan mendengar pendapat orang yang menurutnya tak berdasar.
Respons spontannya, bila tak puas dengan jawaban, bisa membuat orang merasa dikecilkan. Tak jarang ia memberi penilaian dan kritik spontan terhadap ide orang lain dan tak segan memotong pembicaraan mitra komunikasinya. Kadang, ia menggunakan kata yang menyinggung pihak-pihak tertentu.
Mengandalkan ilmu pengetahuan, Fauzi Bowo menunjukkan kepedulian yang tinggi dalam usahanya memenuhi kebutuhan warga. Ia selalu bertanya dan mendengar. Bahkan melalui bantuan ahli survei, ia berusaha mengidentifikasi kebutuhan, keinginan, dan harapan warga.
Fauzi menyadari dampak kebijakan, peraturan, dan tindakan terhadap warga meski itu tidak sering diungkapkan kepada publik. Ia mencari tahu tren yang ada di masyarakat untuk mengetahui apa yang diinginkan dan dibutuhkan warga di masa depan yang dekat.
Secara informal, ia melibatkan
Kesadarannya akan keterbatasan sumber daya yang dimiliki Pemprov DKI Jakarta, mendorongnya untuk mencari pendekatan kreatif guna menyediakan dan meningkatkan pelayanan. Kepedulian terhadap pencapaian dan peningkatan hasil serta meningkatkan pelayanan ditampilkannya melalui beberapa program. Program itu seperti pengobatan gratis untuk warga miskin, meski prosedurnya masih bertele-tele, anggaran pendidikan 28 persen, dan transparansi tender proyek Pemprov DKI Jakarta.
Kompetensi yang sangat menonjol pada Fauzi Bowo adalah kepekaan terhadap global, yaitu kemampuan untuk terus meningkatkan pengetahuan tentang latar belakang, orientasi, pengalaman, dan budaya negara lain.
Pengalamannya mengunjungi dan tinggal di beberapa negara mendukung kompetensi ini sehingga mampu menciptakan atmosfer yang membuat orang asing merasa diterima dan diundang untuk berpartisipasi. Terbukti, Ia mampu mendapat dana bantuan dari Belanda untuk riset mengenai
Fauzi Bowo juga menunjukkan kemampuan menghasilkan ide dan menggunakannya untuk mengembangkan pelayanan yang lebih baik. Ia merupakan gubernur di Indonesia yang pertama menginstruksikan penggunaan
Menginstruksikan penyediaan banyak ruang
Keputusan berisiko dibuat oleh Fauzi Bowo sebagai gubernur, yakni membuat pabrik air minum sendiri, membuat pelabuhan sendiri, tanggul raksasa di Teluk Jakarta, mengambil tanggung jawab pembiayaan pembangunan MRT sebesar 58 persen hingga menerbitkan dan menjual obligasi daerah.
Semua itu menunjukkan adanya kompetensi pengambilan risiko. Fauzi juga berkehendak membuat rekomendasi radikal dan mendukung penerapannya. Ia siap menghadapi beban finansial dan protes keras dari sejumlah pihak.
Fauzi Bowo yang sering dinilai kurang tegas dan terlalu banyak pertimbangan ternyata telah membuat keputusan yang berani. Gaya dan strategi komunikasi yang digunakannya mengaburkan semua yang sudah dilakukannya selama ini. Kelemahan itu perlu dibenahi jika Fauzi terpilih lagi menjadi gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.