Inggris Kalah dengan Tegak

Kompas.com - 26/06/2012, 00:01 WIB

KOMPAS - Kekalahan dari Italia 2-4 lewat adu penalti membuat Inggris masygul, apalagi itu terjadi di tengah mekarnya kepercayaan publik menyusul pembuktian anak-anak asuhan Roy Hodgson. Namun, atas dasar itu pula publik di Inggris tidak memberi tekanan terlampau besar kepada pasukan ”The Three Lions”.

Dua media Inggris, The Sun dan The Guardian, bahkan tidak menulis kekalahan Inggris dengan skor 2-4 di kepala berita. The Sun dan The Guardian dalam laman internet mereka lebih memilih untuk menggunakan judul, Inggris 0- Italia 0 dan Inggris 0-0 Italia. Baru pada bagian subjudul mereka menjelaskan soal skor 2-4 lewat adu penalti yang menyesakkan itu.

Relatif ramahnya perlakuan media Inggris kepada tim nasional mereka karena adanya beragam masalah yang merundung sebelumnya. Pencopotan ban kapten John Terry dan pengunduran diri pelatih Fabio Capello adalah beberapa di antara yang menonjol.

Ketika Roy Hodgson ditunjuk menukangi Inggris Mei lalu, publik masih lebih memercayai Harry Redknapp. Popularitas mantan arsitek Tottenham Hotspur itu cenderung berada di atas Hodgson. Namun, kemampuan menangani tim nasional sepak bola tidak melulu terkait popularitas. Hodgson yang pragmatis membawa Inggris mengimbangi Perancis plus mengalahkan Swedia dan Ukraina.

Bersama Hodgson, Inggris mulai kembali kepada pola serangan dengan tetap mengandalkan ketatnya pertahanan. Dia memilih para pemain muda yang keras kepala berambisi menang.

Kelihaian ini terlihat ketika Hodgson memilih bek seperti Glen Johnson atau John Terry dan penyerang Danny Welbeck. Mereka pun membuktikan kepercayaan Hodgson.

Padahal, beragam masalah dalam tim sepeninggal Capello menempatkan Hodgson dalam posisi yang sangat membingungkan. Beruntung Hodgson menjawab keraguan itu.

Lolosnya Inggris hingga perempat final merupakan pencapaian berlebih di luar harapan. Namun, dominasi Italia atas rekor tujuh kali pertemuan mereka tetap belum terpecahkan.

Hingga kini Italia lima kali menang, sekali imbang, dan hanya satu kali takluk. Bekas Pelatih Inggris Graham Taylor mengatakan, buruknya rekor itu tak lepas dari keterbatasan formasi 4-4-2 yang diandalkan Hodgson.

Inggris perlu segera mengubah cara bertanding untuk memperbaiki penampilan selanjutnya. ”Ini tentang gaya bermain,” kata Taylor.

Dengan penguasaan bola yang jauh lebih rendah ketimbang Italia, yakni hanya 36 persen berbanding 64 persen, Inggris kekurangan pemain dengan teknik di atas rata-rata.

Total passing Italia 815 kali berbanding 320 passing tim Inggris menggambarkan kelemahan itu. Redknapp mengatakan, kondisi itu disebabkan Inggris minus pemain berkemampuan seperti Andrea Pirlo.

”Adanya Pirlo di tim lawan menjadi sulit bagi pemain kami menciptakan dampak bagi permainan,” kata Redknapp.
Mantan striker Inggris, Michael Owen, mendesak perubahan sistem pelatihan pemain muda sejak di tingkat paling dasar. Dia meragukan Inggris punya pemain sekaliber Pirlo.

”Jika kamu bukan tim terbaik, kamu harus menemukan metode alternatif agar meraih kemenangan. Pilihan lain ialah melupakan kekalahan untuk sementara dan mulai dengan gaya bermain yang berbeda,” ujar Owen lugas.
(AFP/REUTERS/INK)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau