Ahli Jerman Kaji Teknik Menenun Ulos Batak

Kompas.com - 26/06/2012, 00:26 WIB

LONDON, KOMPAS.com--Komunitas Batak memiliki pengetahuan tradisional bernilai tinggi tentang menenun Ulos Batak yang sayangnya dewasa ini sudah mulai ditinggalkan oleh para penenun Batak.

Padahal hasil tenunan dengan teknik tradisionl lebih bagus daripada menggunakan teknik modern, demikian pandangan pakar Etnologis Dr Sandra Niessen dalam acara pameran tekstil Ulos Batak di Gallery Smend, di Kota Koeln, Jerman.

Fungsi Pensosbud KJRI Frankfurt Hendriek Yopin kepada ANTARA London, Sabtu menyebutkan  dalam pameran tersebut Dr Niessen menayangkan secara detil bagaimana ulos ditenun dengan teknik tradisional yang sarat dengan nilai-nilai filsafat.

Melalui film singkat berdurasi 30 menit dengan judul "Rangsa ni Tonun" yang dibuat MJA Nashir dan setiap tahapan pembuatan ulos mengandung makna spiritual yang jika diurut bermuara kepada kebesaran Tuhan sang pencipta.

Konjen RI di Frankfurt, Damos Dumoli Agusman menyatakan kekagumannya atas upaya Dr Niessen dan Nashir merekonstruksi pengetahuan tradisional teknik menenun Ulos yang hampir saja menjadi bagian sejarah dari budaya Batak.

Dikatakannya alat tradisional tenun Batak memang sudah hampir punah karena beralih ke alat yang lebih modern. Namun demikian teknik pembuatan tradisional perlu didokumentasikan dan dilestarikan.
Pengetahuan tradisional  sedang diperjuangkan di forum World Intellectual Property Organization (WIPO) di Jenewa sebagai hak intelektual komunitas yang akan mendapat perlindungan dari perspektif HAKI, ujarnya.

Diharapkan dokumentasi ini akan membantu Pemerintah mengidentifikasi dan merekonstruksi kembali pengetahuan tradisional komunitas adat Indonesia yang mulai punah.
Hal ini dengan sendirinya memperkuat perlindungan HAKI terhadap kemungkinan diklaim komunitas atau Negara lain, ujarnya.

Menurut Konjen sudah tentu pengetahuan ini milik komunitas Batak dan upaya Niessen ini semakin memperkokoh kepemilikan orang Batak atas intelektual.

Pengetahuan tradisional dan direkonstruksi secara sistematis serta  dikemas dalam media yang dapat dipahami semua lapisan pengamat di dunia sehingga komunitas Batak tidak perlu lagi kuatir tentang titel kepemilikannya, ujar  Damos.

Dalam Film tersebut dikisahkan secara visual para penenun Batak menggunakan alat dan bahan-bahan yang sangat sederhana namun sangat kaya dengan makna filosofisnya.

Dalam penuturannya, Dr Niessen berhasil mengumpulkan data-data dari berbagai arsip tentang teknik menenun ini dan membuat kembali alat-alat tersebut.

Dia menunjukkan alat ini kepada sekelompok wanita Batak yang telah berusia lanjut dan tidak dapat membendung air matanya pada saat wanita tersebut memperagakan teknik traditional menenun dengan menggunakan alat-alat itu.

Mereka sudah lama tidak melihat alat ini namun memorinya masih sempurna untuk menggunakan apa yang dialami  pada saat remaja dan sayang sekali teknik ini tidak lagi berkembang dalam komunitas Batak dewasa ini, ujar Dr Niessen.

Pameran ini diselenggarakan Rudolf Smend, yang telah lama menggeluti teknik pembuatan Batik Indonesia dan dihadiri pakar tenun dan akademisi Jerman yang tertarik dengan Indonesia.

Dalam pameran tersebut hadir mantan misionaris Jerman yang pernah menetap di tanah Batak setelah era misionaris terkenal Jerman Dr Ingwer L Nomensen.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau