Lewat permainan menyerang, Portugal unggul 1-0 atas Ceko pada perempat final. Gol semata wayang Ronaldo pada menit ke-79 tercipta berkat konsistensi menekan lawan melalui pola 4-2-3-1. Agresivitas Ronaldo, Nani, dan Joao Moutinho, yang beroperasi di belakang striker Helder Postiga, membuat Ceko mati kutu.
Tim asuhan Pelatih Michal Bilek itu hanya bermain baik pada 25 menit pertama. Selebihnya, tekanan demi tekanan Portugal memaksa mereka lebih banyak bertahan. ”Seleccao Eropa” itu akan menantang Spanyol dalam laga bertajuk derbi Semenanjung Iberia di semifinal, Rabu (28/6).
”La Furia Roja” sendiri melaju ke empat besar setelah menggebuk Perancis, 2-0, lewat gol yang diborong Xabi Alonso. Meski tampil tanpa striker murni, Spanyol dengan gaya bermain tiki-taka mengontrol penuh jalannya pertandingan.
Enam gelandang Spanyol, yang umumnya mampu mengatur permainan, membuat ”Les Bleus” frustrasi. Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan David Silva bergantian mengobrak-abrik pertahanan lawan lewat kemampuan menggocek bola dan membaca permainan.
Lini belakang Perancis tambah keder karena gelandang serang Cesc Fabregas, yang dipasang sebagai striker, sesekali membantu lini tengah untuk menjadi playmaker. Orkestrasi serangan ”Matador” itu kian mantap ditopang dua gelandang bertahan, Sergio Busquets dan Alonso.
”Harus diakui, Spanyol kian berbahaya tanpa striker murni. Dengan enam gelandang, strategi mereka justru sulit ditebak sehingga ancaman bisa datang dari mana saja,” ujar Pelatih Perancis Laurent Blanc, dikutip dari L’Equipe.
Kondisi ini sedikit berbeda dengan sang lawan di empat besar nanti, Portugal. Meski grafik permainan Portugal terus meningkat, ketergantungan terhadap Ronaldo cukup tinggi. Dari enam gol yang ditorehkan Portugal, separuh di antaranya berasal dari kaki dan kepala pemain Real Madrid itu.
Tiga gol yang diciptakan Ronaldo pada dua laga terakhir itu bahkan penentu nasib Portugal lolos hingga ke semifinal. Ronaldo pun dipastikan kembali menjadi pusat permainan tim saat meladeni tantangan juara bertahan Spanyol.
Duel ini bakal menarik karena selain membawa gengsi Semenanjung Iberia, pemain kedua tim juga sering berjibaku di Liga Spanyol. Ronaldo, Pepe, dan Fabio Coentrao di kubu Portugal akan menghadapi rekan-rekan seklubnya di Real Madrid, seperti Iker Casillas, Sergio Ramos, Alvaro Arbeloa, dan Alonso. Tensi pertandingan bakal memanas dengan keberadaan sejumlah penggawa Barcelona di tubuh Spanyol, seperti Xavi, Busquets, Iniesta, Fabregas, dan Gerard Pique.
Menurut Pelatih Portugal Paulo Bento, motivasi timnya berlipat untuk menjuarai Piala Eropa untuk pertama kali. ”Setelah hanya menjadi runner-up 2004, saat ini menjadi momen yang tepat untuk juara. Permainan tim terus mendekati bentuk optimal,” ujarnya kepada Reuters.
Namun, hal itu bukan perkara mudah mengingat gaya bermain tiki-taka Spanyol rentan membuat lawan frustrasi. Portugal mesti membenahi mental pemain guna meredam strategi yang mengutamakan penguasaan bola dengan umpan satu-dua sentuhan itu.
Mereka harus ekstrasabar dan tak malu menerapkan serangan balik, seperti strategi Chelsea saat meredam tiki-taka Barcelona dalam semifinal Liga Champions musim lalu. Dengan kedisiplinan tinggi, bukan tak mungkin Portugal mampu memupus harapan Spanyol merebut gelar juara Eropa ketiga kali.
Hingga kini, baru Jerman yang sudah mengoleksi tiga gelar, yakni 1972, 1980, dan 1996. Setelah menjadi runner-up empat tahun lalu, Jerman berambisi membawa pulang gelar keempat. Sejauh ini, ”Der Panzer” menjadi satu-satunya tim yang selalu menang dari empat laga.
Dengan formasi 4-2-3-1, tim asuhan Joachim Loew tampil tajam. Torehan sembilan gol menjadi yang terbanyak dibandingkan dengan kontestan lain di semifinal. Saat menghancurkan Yunani, 4-2, pada babak perempat final, lini tengah Der Panzer tampil taktis.
Trio Mesut Oezil, Marco Reus, dan Andre Schuerrle terus bergerak dan aktif bertukar posisi untuk melumpuhkan lini belakang lawan. Mobilitas tinggi itu efektif membongkar benteng Yunani sehingga striker gaek Miroslav Klose pun sukses mencetak gol perdananya pada ajang kali ini.
Stok melimpah pemain berkualitas membuat Loew leluasa mengubah taktik. Striker Mario Gomez dan duo gelandang Lukas Podolski dan Thomas Mueller, yang tak bermain sejak awal melawan Yunani, bisa menjadi kartu as saat menghadapi Italia di semifinal nanti.
”Saya tak ragu menampilkan komposisi pemain dan taktik berbeda. Justru faktor kejutan itu bisa menjadi kunci sukses, terutama pada laga penentuan,” ungkap Loew kepada Bild.
Italia pun menjadi lawan sepadan Der Panzer. Pelatih Cesare Prandelli mengubah gaya bertahan khas Italia dengan permainan menyerang. Setelah bermain imbang 1-1 dengan Spanyol dan Kroasia, ia mengubah pola 3-5-2 menjadi 4-1-3-2. Trio Claudio Marchisio, Daniele De Rossi, dan Riccardo Montolivo pun lebih leluasa menopang kinerja penyerang karena ada Andrea Pirlo di belakang mereka.
Perubahan itu membuat Inggris kerepotan meladeni permainan ”Gli Azzurri”. Setelah saling menyerang selama 20 menit, Italia mengambil alih jalannya laga. Mereka berkali-kali mengancam gawang Inggris yang tetap mempertahankan pola 4-4-1-1.
”Tiga Singa” akhirnya menyerah 2-4 lewat drama adu penalti. Bagi Italia, sukses ini mengingatkan kita pada Piala Dunia 2006. Gli Azzurri jadi juara di tengah merebaknya kasus pengaturan skor, Calciopoli.
Sebelum bertolak ke Polandia-Ukraina, Italia diguncang kasus Calcioscommesse alias Calciopoli jilid II. Prandelli bahkan mencoret bek Domenico Criscito karena diduga terlibat. Namun, itulah Italia, tim juara dunia empat kali yang bermental baja.(ASWIN RIZAL HARAHAP)