Rombongan Ormas Keroyok Pengendara Motor di Pamulang

Kompas.com - 27/06/2012, 21:13 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Konvoi rombongan organisasi massa yang terjadi kawasan Pamulang, Tangerang Selatan pada Rabu (27/6/2012) sore tadi ternyata berujung ricuh. Beberapa pengendara motor menjadi korban pengeroyokan rombongan ormas tersebut.

Salah satu pengendara yang menjadi korban yakni Rae Prasetyo (26). Rae menderita luka sobek di kepala bagian belakang dan luka memar di bagian tangan dan badan.

Rae menuturkan kronologi pengeroyokan itu terjadi. Pria lulusan salah satu perguruan tinggi negeri ini mengatakan peristiwa itu bermula saat dirinya baru saja keluar dari komplek Permata Pemulang dan hendak menuju bengkel di Villa Dago pada Rabu sore pukul 15.30 WIB.

Saat melintas di Jalan Siliwangi, Pamulang, volume kendaraan yang melintas terbilang normal. Namun, kondisi di jalur di sampingnya yakni dari arah Pamulang menuju Serpong justru sangat padat karena ada rombongan konvoi sepeda motor salah satu ormas. Ada lebih dari 50 pengendara sepeda motor yang menutup semua jalur di jalan itu.

"Awalnya mereka hanya pakai satu jalur itu. Tapi di bagian tengah rombongan mereka berusaha masuk ke jalur yang berlawanan arah dengan paksa," ungkap Rae.

Menurut Rae, beberapa anggota konvoi itu tampak sengaja memepetkan motornya ke pengendara lain agar mau memberikan jalan. Hal ini terjadi pada Rae. Karena kaget dipepet, Rae pun menghentikan kendaraannya mendadak di tengah jalan. Sikap ini justru dianggap sebagai undangan tantangan oleh kelompok ini.

"Salah satu di antaranya langsung mukul ke arah helm saya pakai tangan kosong dan tendang motor saya," ucap Rae.

Melihat kericuhan terjadi, anggota konvoi lain justru tampak bersemangat mendatangi Rae. Mereka pun berkerumun dan mulai melakukan pemukulan. Jumlahnya ada sekitar 20 orang.

"Ada beberapa yang memukul denga tangan kosong, ada yang memaki saya, ada yang tendang, ada juga yang berusaha melepas helm saya. Mereka juga memukul dengan balok kayu ke arah badan," papar Rae.

Praktis di jalan Siliwangi, tidak ada pengemudi lain yang berani melintas. Seisi jalan sudah disesaki dengan puluhan pengendara motor kelompok ormas ini. Saat dikeroyok, Rae mengaku sama sekali tidak melawan.

Setelah puas, rombongan itu pun meninggalkan Rae. Seorang polisi kemudian datang menghampirinya untuk membantu. "Tapi sudah telat saya udah keburu dikeroyok," tukasnya.

Atas peristiwa ini, Rae kemudian melakukan visum dan membuat laporan polisi di Polsek Metro Pamulang atas kasus penganiayaan.

"Ternyata di sana ada empat orang lainnya yang juga jadi korban rombongan konvoi itu. Dua laki-laki dan dua perempuan," ujarnya.

Salah seorang pria yang ada di kantor polisi itu, kata Rae bahkan mengalami luka bocor parah di bagian belakangnya. Motor pria itu pun dirampas para pelaku.

"Saya lapor karena saya enggak terima diperlakukan seperti ini. Ormas harusnya bisa dikontrol kalau tidak bisa dibubarkan. Polisi juga harusnya tegas jangan membiarkan kita justru dipukuli," pungkas Rae.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau