JAKARTA, KOMPAS.com — Alex Noerdin, pria asal Palembang, Sumatera Selatan, 51 tahun lalu, tiba-tiba saja menyemarakkan pemberitaan media massa Ibu Kota beberapa bulan belakangan sebagai salah satu calon gubernur DKI Jakarta. Hasil penelitian yang dilakukan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Yayasan TIFA pun menempatkan nama Alex sebagai calon yang paling sering muncul di media massa.
Beberapa pihak awalnya mempertanyakan pencalonan Alex yang dinilai tiba-tiba. Kapabilitas Alex yang sudah pernah dua kali menjadi Bupati Musi Banyuasin dan sekali menjadi Gubernur Sumatera Selatan ini pun masih dipertanyakan. Alex dinilai kandidat lain tidak akan mampu menuntaskan problem Jakarta yang lebih rumit dibandingkan Sumatera Selatan.
Dalam beberapa kali kesempatan, Alex menyatakan sedih dan kesal diremehkan seperti itu. Memang tak banyak warga Jakarta yang tahu bagaimana rekam jejak Alex selama di Sumatera Selatan. Tidak ada satu buku pun yang menuturkan kisah sukses Alex di sana. Alex beralasan, dia merasa malu jika harus dibuatkan buku biografi.
"Sudah sejak sepuluh tahun lalu ada yang mau bikinkan biografi. Tapi saya merasa belum pantas," katanya, Rabu (27/6/2012) malam, di Wisma Antara, Jakarta Pusat.
Namun, setelah berkali-kali tawaran pembuatan buku biografi ditolak, Alex akhirnya luluh juga dengan tawaran Warta Ekonomi. Buku biografi pertama Alex yang bertajuk Alex Noerdin Sang Entrepreneurial Governor pun diluncurkan, Rabu malam. Buku full color setebal 160 halaman ini menceritakan bagaimana sepak terjang kepemimpinan Alex selama di Sumatera Selatan dan juga trik jitu yang akan dilakukan Alex dalam mengatasi persoalan Jakarta.
Di dalam salah satu sub-bab berjudul "Bujukan Maut Alex" diceritakan bagaimana Alex mengatasi persoalan terbatasnya dana untuk pembangunan kompleks olahraga Jakabaring untuk perhelatan SEA Games ke-26.
Dana yang harus dikeluarkan penyelenggara untuk melaksanakan pesta olahraga terbesar Asia Tenggara itu mencapai Rp 2,2 triliun. Namun, APBD Pemprov Sumatera Selatan hanya mampu menyediakan Rp 100 miliar, sementara dana APBN hanya menggelontorkan Rp 600 miliar.
Dari mana dana sisanya? Di sinilah, langkah cerdik Alex dikeluarkan. Alex mulai mengajak pihak ketiga seperti swasta, BUMN, dan BUMD, untuk berpartisipasi membangun sarana olahraga SEA Games. Tentu perusahaan tidak mau rugi berinvestasi. Maka dari itu, cara yang dilakukan Alex adalah menerapkan program BOT (built, operate, transfer). Salah satu contohnya adalah gedung sumbangan Pertamina 30 tahun lalu, yang jelek, kotor, panas, dan toiletnya tidak layak pakai.
"Saya katakan, siapa yang berani perbaiki gedung ini, maka itu nanti bisa jadi gedung multifunction, dan saat SEA Games bisa untuk voli indoor, lengkap lighting, AC, sound system, dan tempat duduk berstandar internasional. Jika diperbaiki, saya beri pemanis, boleh bangun hotel dan mal di sekitarnya dengan sistem BOT," kata Alex di buku itu.
Persyaratan BOT yang ditawarkan pemerintah adalah, setelah 30 tahun, akan kembali ke Pemprov Sumatera Selatan dan tiap tahun ada revenue sharing untuk pemprov. Alhasil, bujukan manis ini direspons secara antusias oleh pihak swasta.
Cara lain yang dilakukan Alex adalah dengan melakukan pendekatan langsung ke BUMN. Dia berbicara langsung ke Dirut PT Bukit Asam Tbk. Alex saat itu mengatakan, "Bukit Asam itu sejak zaman Belanda sudah mengambil batu bara dari Sumatera Selatan. Anda dan karyawan juga hebat-hebat, gajinya besar, fasilitas Bukit Asam di Muara Enim luar biasa. Lantas, apa bantuannya untuk SEA Games ini? Kami sangat butuh lapangan tenis."
Ternyata, Dirut Bukit Asam langsung menyetujui permintaan Gubernur Sumatera Selatan itu. Alhasil, Alex berhasil mendapat venue lapangan tenis berstandar internasional tanpa keluar uang satu sen pun. Dengan kelihaiannya ini, ahli marketing yang juga CEO MarkPlus Inc, Hermawan Kertajaya, pun menuliskan dalam buku itu dengan mantap bahwa MarkPlus Inc menobatkan Alex Noerdin sebagai The Best Regional Leader tahun 2011.
Alex menceritakan bahwa saat buku ini dibuat, dia memang sempat ragu karena nanti dikira ajang promosi jelang Pilkada 2012. "Saat Warta Ekonomi menawarkan untuk membuat buku ini, saya pikir beberapa kali karena dikira promosi jelang pilkada. Kalau biografi saya tidak mau karena tidak ada istimewanya bagi saya. Tapi buku ini bisa inspiring bagi yang lain," tutur Alex.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang