Alex Noerdin Tebar Janji di Gang Sempit Pasar Senen

Kompas.com - 28/06/2012, 16:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Gang sempit Jalan Pasar Senen Dalam VIII pada Kamis (28/6/2012) siang sontak penuh sesak. Pasalnya, ada calon Gubernur DKI Jakarta, Alex Noerdin, yang mengunjungi kawasan padat penduduk tersebut.

Sebelum memasuki gang sempit tempat tinggal warga Jakarta dari kelompok ekonomoni bawah itu, Alex sempat berdialog dengan sopir dan kernet bus di Terminal Senen. Di dalam dialog sambil minum kopi itu, para sopir bus tampak mengeluhkan mahalnya biaya kesehatan.

"Istri saya sakit harus pakai SKTM (surat keterangan tidak mampu). SKTM itu bertele-tele supaya istri saya selamat. Saya terpaksa ke Depkes sendiri," ungkap Narowi, seorang sopir di Terminal Senen, Kamis siang kepada Alex.

Menanggapi keluhan itu, Alex pun menyatakan bahwa dirinya tidak akan mempersulit rakyat miskin dalam berobat. "Rakyat sudah miskin nggak usah dicap miskin, sudah miskin dipermalukan lagi dengan cap SKTM. Padahal itu semua cukup dengan KTP," ucapnya.

Alex berjanji jika dirinya menjadi Gubernur DKI nanti, maka warga Jakarta hanya perlu memberikan KTP untuk berobat gratis.

Keluhan Narowi juga menjadi keluhan sebagian besar warga yang ditemui Alex di gang sempit Jalan Pasar Senen Dalam VIII. "Pak, jangan lupa kami Pak. Jangan lupa sama janjinya untuk gratis berobat," teriak seorang nenek yang antusias bertemu Gubernur Sumatera Selatan itu.

Warga lainnya ada pula yang menyeletuk, "Gini dong kalau mau jadi Gubernur musti bisa lewat jalan sempit. Lewat sini Pak," ujar seorang bapak menunjukkan jalan.

Alex yang didampingi Nono pun tak segan berdesak-desakan melewati jalan yang hanya bisa dilalui satu orang itu. Saat melintasi perkampungan padat itu, Alex dan Nono bertemu dengan pengurus RT dan RW.

Warga yang awalnya ada di dalam rumah pun akhirnya memilih keluar rumah karena penasaran kemeriahan di gang itu. Di tengah gang itu, Alex sempat berorasi tentang janji-janji politiknya yakni dalam waktu 3 tahun Jakarta bebas banjir dan macet, keamanan terjaga dalam waktu 1 tahun, serta bebas sekolah dan berobat sehari setelah dirinya dilantik sebagai Gubernur DKI.

"Kalau tidak terpenuhi, kami mundur! Kami berjanji karena kami sudah pernah melakukannya dulu. Saya Gubernur Sumsel sudah menjalankan program berobat dan pendidikan gratis sejak 10 tahun lalu," papar Alex.

Kebanyakan massa yang hadir adalah para lansia dan ibu-ibu muda. Selain itu, belasan anak muda berkostum Persija Jakarta pun terlihat menyambut pasangan nomor urut 6 itu. Alex yang merupakan pendukung setia Sriwijaya FC itu pun tak sungkan menerima syal dari para The Jakmania sambil memohon dukungan untuk maju sebagai DKI 1.

Dalam pertemuan itu, Alex juga kembali menebar janjinya untuk menyediakan stadion bagi kandang Persija. "Buat The Jak, akan ada stadion untuk Persija. Pegang janji saya," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau