Orang Indonesia Lebih Terbuka Bicara Seks

Kompas.com - 28/06/2012, 16:45 WIB

Kompas.com - Bukan cuma mereka yang tinggal di negara maju, orang Indonesia ternyata mulai terbuka untuk berdiskusi tentang masalah seksual. Negara-negara tetangga juga mulai melakukan hal yang sama.

Menurut hasil survei Sexual Wellbeing Global Survey yang dilakukan oleh produsen kondom Durex, sekitar 78 prsen responden merasa semakin terbuka berbicara tentang seks. Pandangan ini lebih banyak ditemukan di Amerika Selatan (85 persen), disusul Amerika Utara, Afrika (84 persen), dan Australia (83 persen). Jumlah tersebut lebih tinggi dari responden di Eropa (78 persen), dan Asia (74 persen).

Survei tersebut juga mengungkapkan 76 persen orang Indonesia setuju mereka lebih terbuka membicarakan seks yang dulu dianggap tabu. Jumlah ini sama dengan Malaysia dan Thailand (76 persen) dan sedikit lebih tinggi dari Singapura (66 persen).

Sexual Wellbeing Global Survey dilakukan melalui wawancara secara online dan tatap muka oleh Harris Interactive. Survei tersebut diikuti oleh lebih dari 29.000 orang di 36 negara. Dari Indonesia, sekitar 1.015 responden berusia di atas 18 tahun terlibat dalam survei ini.

Pendidikan seksual berupa pemberian informasi yang benar secara ilmiah mutlak diperlukan untuk melindungi masyarakat dari informasi yang meyesatkan. Sebanyak empat dari lima responden mengatakan pendidikan seksual membuat mereka lebih bertanggung jawab pada pasangan mereka.

Fakta tersebut terlihat di seluruh dunia dengan hasil tertinggi di Afrika (85 persen) orang percaya pada manfaat pendidikan seksual, diikuti oleh Amerika Selatan (83 persen), Amerika Utara (82 persen), Eropa dan Australia (79 persen), dan Asia (77 persen).  Di Asia, Hong Kong dan Singapura memiliki skor terendah dalam memandang manfaat pendidikan seks.

Keterbukaan masyarakat akan tema seksualitas tentu diperlukan, salah satunya untuk mendukung upaya pemerintah atau organisasi swasaya masyarakat dalam hal keluarga berencana atau pencegahan penyakit seksual menular.

"Berbicara tentang seks yang didasarkan pada informasi yang benar memiliki keuntungan. Salah satunya adalah meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang seks beserta risikonya, serta menyukseskan upaya pencapaian KB," kata Ratanjit Das, general manager Reckitt Benckiser Indonesia, dalam siaran pers.

Melalui pendidikan seks yang benar, masyarakat juga menjadi lebih percaya diri bahwa mereka memiliki pengetahuan yang benar untuk melindungi kesehatan diri. Untuk itulah budaya mencari informasi atau pendapat dari ahli perlu ditanamkan kepada masyarakat.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau