Perias Pengantin, Menghidupi dan Memberdayakan

Kompas.com - 28/06/2012, 21:19 WIB

KOMPAS.com - Jasa tata rias wajah dan busana pengantin selalu dibutuhkan oleh berbagai kalangan. Pasalnya, pesta pernikahan masih menjadi bagian penting dari siklus kehidupan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Keterampilan tata rias pengantin pun menjadi bekal banyak orang untuk mandiri secara finansial juga memberdayakan orang lain.

Jasa tata rias tak pernah sepi pembeli, profesi penata rias pun menjadi pilihan, utamanya bagi perempuan, dari berbagai kalangan. Segmen pelanggan pun bervariasi, dari kelas bawah, menengah, hingga kelas atas. Selera riasan dan busana masing-masing kalangan ini pun tak sama.

Butuh komitmen dan kemauan untuk mengembangkan diri jika mau bertahan di industri kecantikan ini. Itulah sebab, banyak perempuan atau komunitas perias pengantin saling memberdayakan. Memberikan inspirasi dan membangun jejaring untuk mempertahankan eksistensinya.

Seperti Juwariyah Suroto, perempuan asal Jogokaryan, Yogyakarta ini pernah menekuni profesi perias pengantin selama 10 tahun sejak 1980, dan kemudian fokus membangun bisnis penyedia pakaian dan aksesori pengantin Ratu Busana hingga kini. Berkat jaringan yang dibangunnya, ia pun kini memiliki pelanggan, para perias pengantin di berbagai daerah di Indonesia.

Lain lagi dengan Maimunah, pemilik salon Lys di Peninggilan, Ciledug, Tangerang, Banten. Diawali usaha salon rumahan, Maimunah pun fokus menekuni profesi penata rias pengantin sejak 2000. Ia pun mulai melakukan regenerasi kepada anak dan menantunya lantaran semakin banyak pelanggan dari kalangan menengah yang mempercayakan riasan, busana, hingga perlengkapan pesta pernikahan kepadanya.

Menginspirasi lewat buku
Penerbit buku Gramedia Pustaka Utama turut mendukung perias pengantin tradisional melalui buku inspirasi tata rias dan busana pengantin. Salah satunya, buku ditulis penata rias M Deddy yang berhasil menginspirasi penata rias terutama di daerah-daerah di Indonesia.

"Banyak orang yang menganggap bidang ini tidak intelek. Tapi justru di bidang kecantikan ini ada pemberdayaan luar biasa. Buku-buku M Deddy menginspirasi banyak orang, banyak orang terangkat kehidupannya darinya," jelas Nana Lystiani dari Gramedia Pustaka Utama di sela kegiatan seminar dan demo make-up pengantin Beauty Inspiration M Deddy di Gedung Smesco, Jakarta, Kamis (28/6/2012).

Menurut Nana, dunia tata rias pengantin tradisional memiliki kekuatan dalam hal pemberdayaan, dan mampu menghidupi secara finansial. Ia pun berharap semakin banyak buku-buku tata rias pengantin yang diterbitkan untuk menginspirasi penata rias pengantin seluruh Indonesia.

Ia melanjutkan, M Deddy sendiri akan menerbitkan buku ke-23 dan ke-24 dalam waktu dekat. Untuk memberikan inspirasi tata rias dan busana pengantin tradisional, modern, dan modifikasi.

Bagaimana pun, inspirasi tata rias pengantin akan terus dibutuhkan para perias, baik pemula mau pun mereka yang sudah berpengalaman bertahun-tahun. Demi memenuhi kebutuhan yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Pemilik Milla Griya Pengantin, Arni Milasari mengakui penata rias perlu menggali inspirasi dengan berbagai cara, untuk meningkatkan keterampilannya. Baginya, apa dan siapa pun bisa menjadi sumber inspirasi.

"Dari berbagai macam jenis riasan kita bisa memelajari teknik, dan mengembangkannya sesuai versi kita sendiri," tutur perempuan yang pernah mengikuti kursus tata rambut Rudy Hadisuwarno pada 2001 ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau