Papua

Pemerintah Terus Berkomunikasi

Kompas.com - 29/06/2012, 02:54 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah terus menjalin komunikasi dengan sejumlah kelompok di Papua. Komunikasi tidak hanya dilakukan secara terbuka dengan kelompok yang keberadaannya diakui luas, tetapi juga secara tertutup dengan kelompok-kelompok tertentu.

”Komunikasi-komunikasi tidak harus dilakukan terbuka. Ada juga komunikasi tertutup yang kami lakukan,” kata Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto di Kantor Presiden, Kamis (28/6).

Komunikasi tertutup yang dilakukan itu, menurut Djoko, melibatkan aparat intelijen. Komunikasi ditujukan kepada kelompok-kelompok bersenjata di Papua. Komunikasi sudah dijalin selama setahun terakhir.

”Mereka tidak mau terbuka. Beliau-beliau itu tidak mau bertemu dalam situasi yang sangat terbuka. Proses pendekatannya tidak mudah, harus lewat perantara, harus lewat orang-orang yang dipercaya,” tutur Djoko.

Menurut dia, pemerintah sedang berupaya menentukan kelompok-kelompok mana yang layak merepresentasikan keseluruhan masyarakat Papua. ”Tidak mungkin keseluruhan kelompok kita akomodir. Harus ditentukan siapa merepresentasikan siapa dan itu tidak mudah untuk Papua,” kata Djoko.

Sementara proses itu berlangsung, pemerintah melanjutkan komunikasi dengan sejumlah kelompok yang ada. ”Yang penting, apa yang sekarang berjalan terus dilanjutkan. Komunikasi terus. Saya dan Wakil Presiden menerima delegasi dari Papua. Bambang Darmono (Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat) tiap tiga hari sekali menerima kelompok dari Papua,” ungkap Djoko.

Menanggapi upaya pemerintah, Poengky Indarti dari Imparsial mengatakan, jika upaya pemerintah melakukan komunikasi adalah seperti yang dilakukan Farid Husain selaku utusan khusus yang datang ke Papua dan berbicara dengan tokoh-tokoh Papua, itu dinilainya bagus. Upaya itu menunjukkan pemerintah serius menyelesaikan konflik dengan dialog bermartabat.

Namun, Poengky memberi catatan, pertemuan Farid dengan tokoh-tokoh Papua itu belum bisa disebut pemerintah sudah melakukan dialog. ”Ini hanya upaya persiapan dialog, belum menjadi dialog itu sendiri,” katanya.

Ia menambahkan, jika yang dimaksud dialog adalah para pejabat dari Jakarta hadir di Papua untuk jumpa masyarakat, atau pejabat lokal di Papua mengajak pertemuan masyarakat, ini tidak bisa dianggap sebagai dialog. ”Harus dilihat, orang yang dimaksud memang diberi mandat. Bukan semua pejabat yang datang ke Papua dianggap melakukan dialog,” kata Poengky.

Di tempat terpisah, Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional Letnan Jenderal (TNI) Junianto Haroen mengatakan, persoalan Papua harus diselesaikan dengan cara-cara tanpa kekerasan. Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanudin melihat akar persoalan Papua pada perbedaan persepsi soal Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) 1969, marjinalisasi masyarakat Papua, trauma operasi militer, dan gagalnya Otonomi Khusus.(ATO/EDN/ONG)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau