Suriah Tantang Turki

Kompas.com - 30/06/2012, 02:29 WIB

Damaskus, Jumat - Di saat perang mengepung Damaskus, ibu kota Suriah, pemerintahan Presiden Bashar al-Assad menggeser ratusan tentara dan 170 tank ke perbatasan dengan Turki, Jumat (29/6). Itulah bentuk perlawanan atas Ankara yang sudah lebih dulu memobilisasi pasukannya ke perbatasan.

Seorang jenderal dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA), tentara Suriah yang membelot ke pihak pemberontak, Jumat, mengatakan, pasukan pemerintah menyiagakan 170 tank di dekat Aleppo, kota di Suriah utara yang berbatasan dengan Turki. Belum ada konfirmasi atas laporan itu, tetapi pergeseran pasukan Damaskus ke perbatasan dengan Turki sangat mungkin.

Jenderal Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer— asosiasi perwira senior Suriah yang telah membelot dari rezim Assad—menuturkan, tank-tank telah disiagakan di Sekolah Infanteri, dekat Musalmieh, di timur laut kota Aleppo atau 30 km dari tapal batas dengan Turki.

”Tank-tank itu sudah berada di Sekolah Infanteri. Armada itu siap digeser ke perbatasan untuk mengimbangi penempatan kekuatan Turki atau juga menyerang kota yang dikuasai oposisi dan desa-desa di dalam dan sekitar zona perbatasan utara kota Aleppo,” kata Sheikh.

Sehari sebelumnya, Turki mengirim kontingen besar tentara dan persenjataan ke perbatasan dengan Turki, yakni ke Yayladagi, Altinozu, dan Reyhanli di Provinsi Hatay, Turki selatan. Armada yang disiagakan adalah tank, mobil lapis baja, pelontar roket, dan meriam antipesawat udara.

Turki memobilisasi kekuatannya ke perbatasan karena geram terhadap aksi militer Suriah yang menembak jatuh satu pesawat tempur F-4 Phantom milik AU Turki, Jumat pekan lalu.

Kalangan aktivis melaporkan, Jumat, puluhan orang tewas dalam rentetan serangan di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah, dalam dua hari terakhir. Kebanyakan korban adalah warga sipil di kota Douma.

Kekerasan pada hari Kamis telah menewaskan sedikitnya 91 orang, termasuk 59 warga sipil. Pada hari itu terjadi ledakan kembar di Damaskus. Adapun pada hari Rabu sekitar 149 orang tewas.

Kekerasan yang terus meningkat itu mewarnai persiapan pertemuan internasional tentang Suriah di Geneva, Swiss, yang akan membahas agenda perdamaian untuk mengakhiri konflik yang telah berjalan 15 bulan.

Pertemuan dijadwalkan diikuti semua anggota Dewan Keamanan PBB, ditambah negara-negara utusan Liga Arab, termasuk Turki, untuk membahas jalan damai atas krisis Suriah. Namun, Rusia masih keberatan jika Barat mengusulkan bahwa jalan terbaik mengakhiri krisis itu adalah pembentukan pemerintahan transisi, atau pelengseran Assad.

Utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, optimistis agenda barunya itu akan diterima Rusia. Menurut dia, pertemuan di Geneva, Sabtu ini, akan menghasilkan masukan penting bagi penyelesaian krisis Suriah.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di St Petersburg, Rusia, Jumat. AS ingin agar Rusia setuju dengan proposal yang akan dibahas di Geneva,

Peningkatan mandat

Pemerintah RI meminta PBB mulai memikirkan upaya meningkatkan mandat yang diberikan kepada misi PBB yang hingga saat ini ada di Suriah, tidak lagi sekadar memantau dan mengamati perkembangan situasi, melainkan, jika perlu, juga bisa ikut berperan mendorong dan menciptakan perdamaian (peace making).

”Penciptaan perdamaian ini bukan untuk menyerang Presiden Bashar al-Assad, tapi betul-betul menciptakan perdamaian supaya tidak lagi jatuh korban. Dengan demikian, baik Presiden Assad maupun oposisi bersenjata selanjutnya bisa mencari solusi terbaik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Komando Sekolah Calon Perwira TNI AD, Bandung, Jumat.

Terkait rencana evakuasi besar-besaran para WNI yang masih ada di Suriah, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan hingga saat ini proses pemulangan tetap dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan segala macam risiko yang kemungkinan dihadapi.(AFP/REUTERS/AP/ CAL/DWA/WHY/ELD)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau