Seorang jenderal dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA), tentara Suriah yang membelot ke pihak pemberontak, Jumat, mengatakan, pasukan pemerintah menyiagakan 170 tank di dekat Aleppo, kota di Suriah utara yang berbatasan dengan Turki. Belum ada konfirmasi atas laporan itu, tetapi pergeseran pasukan Damaskus ke perbatasan dengan Turki sangat mungkin.
Jenderal Mustafa al-Sheikh, Ketua Dewan Tinggi Militer— asosiasi perwira senior Suriah yang telah membelot dari rezim Assad—menuturkan, tank-tank telah disiagakan di Sekolah Infanteri, dekat Musalmieh, di timur laut kota Aleppo atau 30 km dari tapal batas dengan Turki.
”Tank-tank itu sudah berada di Sekolah Infanteri. Armada itu siap digeser ke perbatasan untuk mengimbangi penempatan kekuatan Turki atau juga menyerang kota yang dikuasai oposisi dan desa-desa di dalam dan sekitar zona perbatasan utara kota Aleppo,” kata Sheikh.
Sehari sebelumnya, Turki mengirim kontingen besar tentara dan persenjataan ke perbatasan dengan Turki, yakni ke Yayladagi, Altinozu, dan Reyhanli di Provinsi Hatay, Turki selatan. Armada yang disiagakan adalah tank, mobil lapis baja, pelontar roket, dan meriam antipesawat udara.
Turki memobilisasi kekuatannya ke perbatasan karena geram terhadap aksi militer Suriah yang menembak jatuh satu pesawat tempur F-4 Phantom milik AU Turki, Jumat pekan lalu.
Kalangan aktivis melaporkan, Jumat, puluhan orang tewas dalam rentetan serangan di pinggiran Damaskus, ibu kota Suriah, dalam dua hari terakhir. Kebanyakan korban adalah warga sipil di kota Douma.
Kekerasan pada hari Kamis telah menewaskan sedikitnya 91 orang, termasuk 59 warga sipil. Pada hari itu terjadi ledakan kembar di Damaskus. Adapun pada hari Rabu sekitar 149 orang tewas.
Kekerasan yang terus meningkat itu mewarnai persiapan pertemuan internasional tentang Suriah di Geneva, Swiss, yang akan membahas agenda perdamaian untuk mengakhiri konflik yang telah berjalan 15 bulan.
Pertemuan dijadwalkan diikuti semua anggota Dewan Keamanan PBB, ditambah negara-negara utusan Liga Arab, termasuk Turki, untuk membahas jalan damai atas krisis Suriah. Namun, Rusia masih keberatan jika Barat mengusulkan bahwa jalan terbaik mengakhiri krisis itu adalah pembentukan pemerintahan transisi, atau pelengseran Assad.
Utusan khusus PBB dan Liga Arab untuk Suriah, Kofi Annan, optimistis agenda barunya itu akan diterima Rusia. Menurut dia, pertemuan di Geneva, Sabtu ini, akan menghasilkan masukan penting bagi penyelesaian krisis Suriah.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton juga bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di St Petersburg, Rusia, Jumat. AS ingin agar Rusia setuju dengan proposal yang akan dibahas di Geneva,
Pemerintah RI meminta PBB mulai memikirkan upaya meningkatkan mandat yang diberikan kepada misi PBB yang hingga saat ini ada di Suriah, tidak lagi sekadar memantau dan mengamati perkembangan situasi, melainkan, jika perlu, juga bisa ikut berperan mendorong dan menciptakan perdamaian (peace making).
”Penciptaan perdamaian ini bukan untuk menyerang Presiden Bashar al-Assad, tapi betul-betul menciptakan perdamaian supaya tidak lagi jatuh korban. Dengan demikian, baik Presiden Assad maupun oposisi bersenjata selanjutnya bisa mencari solusi terbaik,” kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Markas Komando Sekolah Calon Perwira TNI AD, Bandung, Jumat.
Terkait rencana evakuasi besar-besaran para WNI yang masih ada di Suriah, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa menyatakan hingga saat ini proses pemulangan tetap dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan segala macam risiko yang kemungkinan dihadapi.(AFP/REUTERS/AP/