Hidup Sehat Baru Sebatas Wacana

Kompas.com - 30/06/2012, 09:02 WIB

KOMPAS.com - Tak bisa dipungkiri, makan memang merupakan sebuah kebutuhan manusia yang paling mendasar.  Makan dilakukan untuk memberikan energi, agar tubuh menjadi sehat, dan supaya kita tetap hidup. Namun seiring perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup, makan tidak lagi sekadar untuk mengisi perut yang lapar, tetapi juga untuk "rekreasi". Makan juga menjadi suatu tradisi atau kebudayaan, di mana kita bisa berlama-lama menyantap makanan lezat sambil berbincang-bincang.

Inilah yang kemudian mengubah konsep mengenai hubungan manusia dan makanan. Hidangan yang dihadirkan di restoran pasti lebih memperhatikan unsur penampilan dan kelezatan rasanya, ketimbang nilai gizinya. Kebiasaan makan yang disebabkan oleh lapar mata (karena tampilan yang menarik), dan lapar hidung (aroma makanan) membuat banyak orang mengalami masalah kelebihan berat badan atau obesitas.

Untuk membantu mengatasi masalah obesitas ini, Unilever Food Solution (UFS) melakukan sebuah riset bertajuk World Menu Report: Seductive Nutrition. "Penelitian ini dilakukan untuk menambah pengetahuan dan membantu masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan saat makan di luar rumah, sehingga terhindar dari masalah obesitas," ungkap Adam Djokovic, Managing Director UFS dalam pemaparan hasil riset di Bistro Boulevard, Jakarta Pusat, Jumat (29/6/2012) lalu.

Riset ini dilakukan dengan melibatkan 5000 responden dari 10 negara, yaitu Inggris, Jerman, Polandia, Rusia, Amerika, Brazil, Afrika Selatan, Turki, China, dan Indonesia. Laporan ini merupakan kumpulan data penelitian mengenai pengaruh kebiasaan konsumen bersantap di luar rumah terhadap obesitas, yang dilakukan oleh UFS sejak tahun 2011. Ketika makan di luar rumah, cara kita makan menjadi tak terkontrol, baik dalam porsi, kandungan gizi, sampai jenis makanannya. Makanan di luar rumah dinilai lebih menggugah selera, sehingga mampu memancing orang untuk membeli.

Berdasarkan hasil riset, ada dua hal yang memancing konsumen untuk memilih makanan, yaitu pilihan menu dan rasa makanan. Sebanyak 80 persen orang menginginkan pilihan menu yang lebih menyehatkan, dan 52 persen orang masih ingin memanjakan diri dengan menyantap makanan yang lezat. "Dari hasil penelitian ini, sebenarnya masyarakat Indonesia sendiri sudah punya kesadaran untuk menyantap makanan sehat," jelas Adam.

Sayangnya, kesadaran ini ternyata tidak diikuti dengan keputusan untuk menyantap makanan sehat. Kebanyakan orang mengaku, niat untuk makan sehat terhambat oleh berbagai kendala. Misalnya, 58 persen orang menganggap makanan sehat harganya mahal, 47 persen beranggapan bahwa makanan sehat kurang menggugah selera, dan 45 persen merasa makanan sehat tidak mengenyangkan. Hal inilah yang membuat masyarakat Indonesia lebih memilih jenis makanan yang kurang sehat, dan menimbun lemak.

"Kesadaran saja tidak cukup. Perlu adanya aksi untuk konsisten hidup sehat. Sekalipun makan di luar, jadilah konsumen yang cerdas dengan memilih makanan yang sehat agar terhindar dari risiko obesitas," pungkas Adam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau