Warga Jepang Kembali Memprotes Nuklir

Kompas.com - 30/06/2012, 17:42 WIB

Ribuan warga Jepang kembali mengadakan demonstrasi di berbagai kota guna menentang keputusan pemerintah untuk menghidupkan kembali reaktor nuklir pertama sejak bencana di PLTN Fukushima tahun lalu.

Perusahaan listrik Kansai Electric berencana menghidupkan kembali salah satu reaktornya di kota Ohi pada Minggu besok (1/7/2012).

Perdana Menteri Yoshihiko Noda menyetujui rencana dua pekan lalu dengan mengatakan energi nuklir sangat diperlukan untuk melindungi ekonomi Jepang.

Keputusan perdana menteri disambut baik kalangan industri yang sebelumnya menyampaikan kekhawatiran akan masalah energi untuk memenuhi kebutuhan industri.

Namun para penentang nuklir tetap bersikukuh pada pendirian mereka dan ribuan warga menghabiskan malam di luar kediaman perdana menteri di Tokyo sebagai protes menentang langkah itu.

"Saya tidak pernah bisa menyetujui pengaktifan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir di Ohi. Pemerintah harus menutup semua PLTN. Pemerintah harus melihat kondisi yang terjadi di PLTN Fukushima dan menyelesaikan persoalan itu dulu sebelum membuat keputusan baru," kata seorang warga yang mengikuti demonstrasi di Tokyo hari Sabtu, 30 Juni.

Keselamatan masa depan

Wartawan BBC di Tokyo, Mariko Oi, melaporkan demonstrasi menentang pembangkit listrik tenaga nuklir telah diadakan beberapa kali di Jepang menyusul bencana nuklir PLTN Fukushima akibat gempa dan tsunami Maret 2011.

"Unjuk rasa kali ini tercatat sebagai salah satu protes terbesar sejak kecelakaan PLTN Fukushima Maret tahun lalu," jelas Mariko Oi.

Di kota Ohi sendiri, lapor Mariko Oi, warga berkumpul di kota dan mengusung berbagai spanduk, antara lain bertuliskan "Duduki Ohi".

Di antara peserta unjuk rasa terdapat para ibu beserta anak mereka dan karyawan swasta maupun karyawan pemerintah.

"Sekarang saya mempunyai anak. Tentu saja saya khawatir dengan situasi saat ini, tetapi saya tidak pernah menginginkan pemerintah melakukan sesuatu yang akan memperparah keadaan di masa depan," tutur seorang ibu.

Tenaga nuklir di Jepang sebelumnya menjadi pemasok sekitar 30 persen dari kebutuhan energi nasional. Namun penduduk Jepang semakin mengkhawatirkan keselamatan atas tenaga nuklir sejak bencana Fukushima.

Beberapa jajak pendapat terbaru menunjukkan sekitar 70 persen  warga Jepang menginginkan penghapusan energi nuklir walaupun tidak harus sekarang juga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau