RUTENG, KOMPAS.com -- Petani kopi di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur, yang dikenal sebagai sentra kopi Nusa Tenggara Timur (NTT), butuh pendampingan petugas teknis. Dengan demikian para petani diharapkan mampu membudidayakan tanaman itu hingga pengolahan hasilnya berstandar ekspor.
Sejauh ini kebun kopi rakyat di Manggarai lepas dari perawatan semestinya. Tanaman kopi lebih mirip hutan kopi. Proses pemetikan tidak selektif, dan pengolahan hasil panen masih dilakukan secarta tradisional. Akibatnya, hasil panen dan mutu kopi merosot atau jauh dari standar ekspor.
Kondisi seperti itu menyulitkan para petani menikmati harga ekspor yang kini sekitar Rp 50.000 per kg. Kopi bermutu tak memadai dihargai hanya Rp 25.000 per kg.
"Pendampingan petugas dibutuhkan untuk membenahi pengolahan hasil panen sekaligus budidayanya. Kopi untuk ekspor, proses pengolahannya harus memadai dan tidak terkontaminasi pupuk kimia, harus benar-benar organik," tutur Knut Christian Kiene, Direktur PT Kopi Manggarai Nusantara, eksportir kopi di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Sabtu (30/6/2012).
Knut yang asal Jerman, sejak empat tahun lalu berupaya mengekspor kopi Manggarai dari Ruteng ke Italia dan Belanda. Sejauh ini ia baru berhasil mengekspor 32,5 ton, masing-masing pada tahun 2011 (14,5 ton) dan awal 2012 (18) ton. Kopi biji layak ekspor itu adalah hasil proses pengolahan yang dilakukan perusahaan Knut di Karot, Ruteng, setelah membeli kopi asalan dari para petani.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang