Mundurnya Pep Guardiola sebagai pelatih FC Barcelona menggemparkan dunia. Maklum, selama empat tahun menangani klub Catalan itu dirinya telah mempersembahkan banyak gelar, termasuk dua gelar Liga Champions, lambang supremasi klub sepak bola di benua biru, Eropa, dan gelar di liga domestik.
Tidak hanya karena limpahan gelar yang diperoleh timnya, tetapi juga strategi racikannya di lapangan membuat klub-klub Eropa tak mampu berbuat banyak ketika berhadapan dengan Lionel Messi dan kawan-kawan. Determinasi tinggi, terutama karena kemampuan penguasaan bola yang hebat, membuat banyak klub pesaing bertekuk lutut.
Keputusan Pep mundur itu menimbulkan sejumlah tanda tanya. Apalagi banyak klub elite Eropa mengincar tanda tangannya di surat kontrak. Chelsea, klub yang mengalahkan Barcelona di babak final Liga Champions 2011-2012, pun mengincarnya. Nilai kontrak yang ditawarkan akan menjadi rekor sebagai nilai kontrak termahal sebagai seorang manajer.
Saat Kompas menemui Pep di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis (28/6), dan bertanya mengenai masa depannya, ia menjawabnya dengan diplomatis.
”Saya mundur karena ingin mencari tantangan baru. Akan tetapi, selain itu, saya ingin mengevaluasi apa yang telah dan akan terjadi dengan hidup saya. Hidup spontan, tanpa terencana, menyenangkan,” kata Pep sambil tertawa.
Ayah tiga anak ini, yaitu Maria (12), Marius (9), dan Valentina (4), buah perkawinannya dengan Cristina Serra, mengaku menikmati kehidupannya sekarang. Dalam sepekan, dia bisa saja berpindah tempat, mencari dan menikmati hal-hal baru yang tak mungkin bisa diperolehnya apabila tetap menangani klub sebesar Barcelona.
Ada satu hal yang ingin dilakukan Pep, yaitu mengajar. ”Saya suka anak-anak. Mereka sangat polos. Murni,” katanya.
Selain itu, ada satu hal lagi yang tak mungkin terpisahkan dari dirinya. ”Barcelona adalah bagian tak terpisahkan dari diri saya. Barcelona adalah saya. Saya adalah Barcelona,” tutur Pep.