Jokowi: Yang Terpenting Masyarakat Terlayani dengan Baik

Kompas.com - 02/07/2012, 03:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Calon gubernur DKI Jakarta Joko Widodo menilai status kelembagaan pengelola transportasi massal, seperti TransJakarta bukanlah masalah utama. Yang patut menjadi fokus pembenahan adalah apakah masyarakat sudah terlayani secara memuaskan dengan sistem yang ada.

"Yang paling penting pelayanan terbaik yang kami pakai. Tidak urusan apa kelembagaannya, mau BLU (Badan Layanan Umum), BUMD (Badan Usaha Milik Daerah), atau dikelola dinas, yang penting masyarakat terlayani dengan baik. Golnya di situ," cetus Jokowi, di Parkir Timur Senayan, Jakarta, Minggu (1/7/2012).

Karena layanan kepada masyarakat yang menjadi tujuan penyediaan transportasi massal, maka dibutuhkan penerapat Standar Pelayanan Minimum (SPM) pada moda transportasi Transjakarta. Aspek inilah yang harus mendapatkan pembenahan.

"Termasuk kalau (bus) sudah tak layak, diganti. Kalau soal status, kalau baik menggunakan BLU ya pakai BLU. Kalau baik menggunakan BUMD, ya pakai BUMD. Yang penting masyarakat terlayani," tegasnya.

Pembenahan transportasi umum yang terintegrasi tak luput dari perhatian Jokowi. Menurut Jokowi, sebelum menerapkan pembatasan kendaraan, integrasi transportas massal perlu lebih dahulu dibenahi.

Seluruh koridor busway perlu segera dilengkapi, termasuk peningkatan jumlah, pembangunan monorel, dan MRT pun harus segera diselesaikan.

"Termasuk redesign tata ruang. Kantor dan pemukiman jangan berjauhan. Targetnya empat tahun busway dan monorel selesai. Kalau MRT, delapan sampai sembilan tahun. Itu realistis. Membeli barang mudah, tetapi non teknisnya yang sulit," papar Jokowi.

Sistem hibah akan dipakai Jokowi dalam pembenahan angkutan umum. Kendaraan-kendaraan yang tak layak operasi akan diganti dengan kendaraan baru dengan pola hibah.

Pola ini tidak akan membebani pemerintah dan karena itu diyakini tidak akan mendapat penolakan dari pemilik maupun koperasi pengelola angkutan umum.

"Masa mau diganti yang baru tidak mau? Kalau peremajaan angkutan dan angkutan massal selesai, baru masuk kebijakan seperti pembatasan kendaraan atau dikenakan pajak tinggi. Banyaklah jurusnya, yang penting fasilitas infrastruktur selesai dulu," ungkapnya.

LBH Jakarta pernah melansir data peningkatan dana hibah Pemprov DKI Jakarta. Pada tahun 2012, dana tersebut meningkat cukup besar hingga mencapai nilai Rp 1,3 triliun, naik tajam dibanding tahun 2011, yang masih sebesar Rp 882 miliar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau