Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, China, menggelar Konferensi dan Pameran Teknologi Perusahaan Skala Kecil dan Menengah pada 22-24 Juni. Kegiatan dua tahunan yang merupakan bagian dari agenda Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (Asia Pacific Economic Cooperation) itu telah menginjak kali ke-7.
Delegasi Indonesia yang dipimpin Ketua Dewan Perwakilan Daerah Irman Gusman hadir atas undangan panitia acara dan pemerintah setempat.
Konferensi dan Pameran Teknologi Perusahaan Skala Kecil dan Menengah Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) Ke-7 bertema ”Teknologi Mendorong Ekonomi, Kerja Sama Menciptakan Masa Depan”.
Sekitar 1.500 perusahaan ikut ambil bagian, mulai dari perusahaan makanan, kerajinan, elektronik, hingga teknologi industri. Mayoritas peserta berasal dari China. Indonesia absen.
Menteri Industri dan Teknologi Informasi China Miao Wei dalam sambutan pembukaan menyatakan, Pemerintah China menaruh perhatian serius dan mendukung penuh perkembangan usaha kecil dan menengah (UKM).
Di mata Pemerintah China, UKM penting dan akan semakin penting dalam mendorong pembangunan ekonomi nasional.
Sebagai gambaran, pada 2011 UKM menyumbang 78,6 persen pertumbuhan industri dan 46,7 persen produk domestik bruto di Provinsi Sichuan.
Dalam rencana pembangunan lima tahun ke-12, Pemerintah China berniat meningkatkan dua kali lipat rencana awal menyediakan lingkungan dan kondisi yang lebih baik bagi pertumbuhan UKM.
Globalisasi, diakui Miao, memberikan persoalan kepada UKM. Dalam konteks ini, daya saing menjadi kunci yang bisa mengubah persoalan globalisasi menjadi peluang bisnis dan teknologi adalah salah satu kunci suksesnya.
Kesadaran Pemerintah China akan pentingnya teknologi guna mendukung UKM yang pada akhirnya meningkatkan daya saing nasional diwujudkan secara konkret, di antaranya adalah dengan pembangunan Chengdu Hi-Tech Zone sebagai salah satu pusat riset dan pengembangan teknologi di China.
Sebanyak 23.000 perusahaan disebutkan sudah terdaftar di Chengdu Hi-Tech Zone yang total arealnya direncanakan seluas 130 kilometer persegi.
Irman Gusman menyatakan, di Indonesia, dengan era otonomi daerah, UKM harus menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Namun, perhatian pemerintah masih kurang maksimal sehingga persoalan klasik menyangkut permodalan pun masih menggema.
Di tengah derasnya globalisasi, Irman menegaskan, UKM tidak bisa dibiarkan sendiri. Campur tangan pemerintah mutlak dibutuhkan.
Hal itu tidak saja sebatas pada kebijakan melonggarkan akses bantuan permodalan bagi UKM, tetapi juga pengembangan teknologi sebagaimana dilakukan Pemerintah China.