Dalam Setahun, Penduduk Miskin RI Turun 890.000 Orang

Kompas.com - 02/07/2012, 13:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Badan Pusat Statistik melaporkan, jumlah penduduk miskin di Indonesia turun 890.000 orang selama rentang waktu Maret 2011-Maret 2012. "Jumlah penduduk miskin atau yang berada di bawah garis kemiskinan di Indonesia pada Maret 2011 sebesar 30,02 juta orang dan Maret 2012 menjadi 29,13 juta orang. Berarti jumlah penduduk miskin turun 0,89 juta orang," sebut Kepala BPS, Suryamin, dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (2/7/2012).

Detailnya, sebut dia, selama Maret 2011-2012, penduduk miskin di perkotaan berkurang 399.500 orang dan di pedesaan berkurang 487.000 orang. Perhitungan jumlah penduduk miskin tersebut didasarkan pada garis kemiskinan selama kurun waktu tersebut.

Ia menyebutkan, garis kemiskinan selama Maret 2011-2012 naik 6,4 persen. Naik dari Rp 233.740 per kapita per bulan pada Maret 2011 menjadi Rp 248.707 per kapita per bulan pada Maret 2012. "Peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peran komoditi bukan makanan, seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan," sambung dia.

Pada komoditas makanan yang memberi pengaruh besar pada garis kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, dan telur ayam ras untuk wilayah perkotaan. Di pedesaan, komoditas makanan yang berpengaruh pada garis kemiskinan adalah beras, rokok kretek filter, dan gula pasir. Disebutkannya pula, ada sejumlah faktor yang memengaruhi pengurangan penduduk miskin sepanjang Maret 2011-2012.

Pertama, kenaikan upah harian buruh tani dan buruh bangunan selama triwulan I-2011 dan triwulan I-2012, yakni masing-masing 2,96 persen dan 4,81 persen. Kedua, penerima beras murah atau raskin dalam 3 bulan terakhir pada kelompok 20 persen penduduk dengan pendapatan terendah meningkat dari 13,30 persen pada tahun 2011 menjadi 17,21 persen pada tahun 2012 di wilayah perkotaan.

Di pedesaan juga terjadi kenaikan 13,3 persen menjadi 17,2 persen dalam kurun waktu yang sama. Ketiga, penerima pelayanan kesehatan gratis selama 6 bulan terakhir pada 20 persen penduduk dengan pendapatan terendah meningkat dari tahun 2011 ke tahun 2012, yakni 4,6 persen menjadi 5,6 persen di perkotaan.

Sementara di pedesaan, penerima pelayanan kesehatan gratis juga naik menjadi 4,7 persen pada tahun ini. "Selama periode Maret 2011-Maret 2012, inflasi umum relatif rendah, yaitu sebesar 3,97 persen," tutur Suryamin.

Kelima, adanya perbaikan penghasilan petani yang ditunjukkan oleh Nilai Tukar Petani sebesar 1,32 persen menjadi 104,68 pada Maret 2012. Keenam, tumbuhnya perekonomian Indonesia sebesar 6,3 persen pada triwulan I-2012 dari triwulan yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga tumbuh 4,9 persen pada periode yang sama.

Terakhir, dari sisi ukuran subyektif, persentase rumah tangga di kuantil terbawah, yakni 20 persen penduduk dengan pendapatan terendah, yang menyatakan bahwa penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam sebulan terakhir meningkat menjadi 12,4 persen pada tahun 2012 di wilayah perkotaan. "Di daerah pedesaan meningkat dari 8,5 persen tahun 2011 menjadi 11 persen pada tahun 2012," pungkas Suryamin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau