Kualitas Remaja Diperburuk Ngorok

Kompas.com - 02/07/2012, 18:35 WIB

KOMPAS.com - Menurut sebuah penelitian terbaru, remaja yang mendengkur mempunyai resiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kemampuan belajar dan perilaku. Mereka terus mengantuk, sulit berkonsentrasi, agresif dan terganggu kehidupan sosialnya.

Suara ngorok sudah dianggap lazim di kehidupan sehari-hari. Apalagi pada remaja-remaja dengan jadwal kegiatan yang padat, dengkuran dianggap sebagai akibat dari kelelahan. Tetapi tahukah Anda bahwa dengkuran sendiri bisa menyebabkan kelelahan berkepanjangan?

Mendengkur dan kantuk berlebihan merupakan dua gejala utama dari sleep apnea, atau henti nafas saat tidur. Ketika saluran nafas melemas saat tidur, ia menyempit dan mengakibatkan sumbatan. Akibatnya, walau dada naik turun berusaha bernafas, tak ada udara yang dapat lewat.

Dalam tidur, ia seolah tecekik. Karena sesak, selanjutnya pertahanan tubuh akan membangunkan otak untuk bernafas. Si penderita akan terbangun singkat tanpa tersadar. Karena terbangun-bangun singkat sepanjang malam, pendengkur jadi selalu merasa mengantuk dan lelah sepanjang hari walau tidurnya sudah mencukupi.

Penelitian

Penelitian yang dilakukan oleh the Disability and Psychoeducational Studies department dari the University of Tucson di Arizona, menyertakan 263 anak-anak dengan rentang waktu pencatatan 5 tahun. Pada pemeriksaan awal ditemukan bahwa 70 anak menderita sleep apnea. Lalu pada pemeriksaan 5 tahun berikutnya, didapati bahwa 44 orang menderita sleep apnea.

Para peserta kemudian diperiksa perilakunya menggunakan alat-alat pemeriksaan psikologi. Hasilnya, pada anak-anak yang tak menderita sleep apnea dan remaja yang dulu menderita namun kini sudah tak lagi, tak ditemukan perbedaan bermakna pada perilakunya.

Remaja pendengkur yang menderita sleep apnea cenderung mempunyai nilai masalah sosial dan perilaku yang tinggi dibanding remaja yang tak memiliki gangguan tidur tersebut. Mereka dinilai 3 kali lipat lebih agresif. Remaja dengan sleep apnea ada 29%, sementara yang sehat hanya 10%.

Kemampuan untuk mengontrol emosi juga didapati 2,9 kali lipat lebih buruk pada pendengkur dibanding remaja yang tak mendengkur.

Perilaku dan kantuk berlebihan

Masalah-masalah perilaku dan interaksi sosial yang dialami dianggap berkaitan dengan kantuk berlebihan yang diderita pendengkur. Seperti sudah diulas sebelumnya, remaja yang menderita sleep apnea selalu berada dalam kondisi kurang tidur, selalu mengantuk, walau durasi tidur sebenarnya sudah cukup. Bayangkan saja diri kita jika hanya tidur 2 jam, bagaimana rasanya di pagi dan siang hari? Persis seperti itulah yang dialami para remaja yang menderita sleep apnea.

Kondisi ini diperparah dengan pola tidur remaja yang juga selalu kurang. Akibat berbagai aktivitas, kebutuhan tidur yang seharusnya 8,5-9,25 jam sehari tak pernah tercapai. Apalagi dengan jam biologis yang berbeda dari orang kebanyakan. Kelompok usia ini wajar jika tidur lewat tengah malam. Padahal, aktivitas sudah dimulai sejak sebelum matahari terbit.

Kualitas dan durasi tidur menjadi sangat penting bagi prestasi. Sleep apnea, jelas memperburuk kualitas tidur. Segala kemampuan konsentrasi, mengendalikan emosi serta perilaku ternyata menurun akibat sleep apnea. Untuk itu, demi kualitas pemuda Indonesia, jangan remehkan lagi kesehatan tidur, khususnya sleep apnea dan mendengkur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau