Perempuan Jakarta Belum Terpenuhi Kebutuhannya?

Kompas.com - 02/07/2012, 21:57 WIB

KOMPAS.com - Di ibukota Jakarta, banyak perempuan urban menghabiskan waktunya dengan beragam aktivitas, utamanya bekerja. Meski begitu, banyak kebutuhan perempuan yang belum terpenuhi dari Jakarta, terutama dalam hal hal keamanan, ketenteraman dan kenyamanan.

Tiga kebutuhan dasar ini menjadi pesan utama yang disampaikan 1000 perempuan Jakarta, dari berbagai kalangan, profesi, juga komunitas maupun organisasi, kepada Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017.

Menurut Tatyana Sutara, Ketua Women's Forum for Excellence (organisasi perempuan yang menginisiasi gerakan partisipasi perempuan dalam politik), suara perempuan akan menentukan apakah kota Jakarta akan lebih ramah perempuan ke depannya.

"Pada dasarnya perempuan dari berbagai kalangan punya kesamaan. Hanya saja masing-masing orang menyampaikan dengan cara berbeda. Perempuan yang pulang malam menggunakan angkot, ingin aman dari pemerkosaan. Ada juga perempuan yang ingin jalan malam hari dengan perasaan aman dan nyaman seperti di Singapura misalnya. Perempuan menginginkan kota yang aman, selain juga mendapatkan fasilitas umum juga perkantoran yang ramah perempuan," jelasnya kepada Kompas Female di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang juga aktif berorganisasi di Kamar Dagang Indonesia Bidang Kerjasama Ekonomi Internasional ini mengatakan, perempuan kota dari berbagai kalangan menginginkan perlakuan yang layak. Apa pun bidang yang digelutinya, perempuan di ibukota membutuhkan kota dan pemerintah setempat yang mengeluarkan kebijakan pro perempuan.

Ia memaparkan, bagi perempuan bekerja, perkantoran yang memiliki fasilitas ruang menyusui dan penitipan anak menjadi kebutuhan. Selain juga peraturan di perkantoran yang memberikan waktu fleksibel bagi ibu bekerja.

Bagi pengusaha kecil menengah, atau industri rumahan butuh dukungan pemerintah dalam hal permodalan juga perizinan, terutama UKM agar lebih dipermudah.

"Sejak krisis, istri punya andil dalam keluarga, menopang keuangan. Banyak yang berbisnis, seperti katering, dari usaha rumahan menjadi besar. Perempuan juga butuh dukungan dalam menjalankan UKM," jelasnya.

Sementara bagi ibu rumah tangga, ruang hijau terbuka di Jakarta menjadi impian. Karena dengan fasilitas publik inilah kaum ibu punya ruang untuk menikmati waktu berkualitas bersama anak-anaknya.

Semua kebutuhan perempuan ini bisa terwujud jika pemerintah memiliki kebijakan pro perempuan, dan mengimplementasikannya dengan ketegasan, bukan sekadar berjanji.

Berbagai kebutuhan perempuan kota, terutama Jakarta sebagai barometer Indonesia ini, juga bisa terwujud dengan upaya dari perempuan itu sendiri.
Untuk mendorong perempuan menyuarakan haknya sebagai warga Jakarta, Women's Forum for Excellence berkolaborasi dengan Kowani dan Female Circle, mengajak 1000 perempuan bertemu muka, berdialog dengan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur Pilkada DKI Jakarta 2012.

Pada Selasa, 3 Juli 2012, di Balai Kartini, organisasi perempuan ini mengajak perempuan Jakarta, baik ibu rumah tangga, profesional, kalangan akademisi, juga perempuan dari beberapa asosiasi termasuk pedagang kaki lima untuk berpartisipasi aktif menyuarakan apa yang dibutuhkannya dari kota Jakarta, dan pemimpinnya.

"Tak perlu takut berpolitik praktis, asalkan niatnya baik. Orang yang terjebak dalam politik lebih karena ketidaktahuan bukan karena ia jahat. Karenanya perempuan perlu membuka diri agar tak lagi takut dengan politik. Berpolitik sudah dilakukan dalam kehidupan sehari-hari perempuan, dalam rumah tangga maupun dalam pekerjaannya. Melakukan politik praktis semestinya bukan lagi menjadi ketakutan perempuan," tutur Tatyana yang menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Politik di Kowani ini.

Melalui forum interaksi bertajuk "Perempuan Jakarte Nyari Gubernur", perempuan kota Jakarta saling memberdayakan untuk berani bersuara mendapatkan tempat tinggal lebih layak, lebih ramah perempuan.  Ketua Umum Kowani, Dewi Motik menambahkan, para perempuan pun akan membuat catatan penting dari forum interaksi ini.

"Nantinya akan ada semacam petisi dari hasil dialog ini, janji-janji pun akan ditagih. Petisi akan mencakup kebutuhan perempuan akan ruang hijau yang memfasilitasi anak-anak bermain dengan rasa aman di taman, selain juga bidang kesehatan, pendidikan," jelasnya.

Pascadialog, termasuk ketika Gubernur dan Wakilnya terpilih nanti, komunitas perempuan ini pun bertekad mengawal terus janji-janji yang pernah ditawarkan, untuk diwujudkan secara maksimal. Dengan begitu dialog yang sudah dibangun, dan suara perempuan yang telah tersampaikan tak berujung pada wacana belaka tanpa realita.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau