Pertanian

Indonesia dan Australia Kerja Sama Industri Peternakan

Kompas.com - 03/07/2012, 04:48 WIB

Jakarta, Kompas - Kedatangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Darwin, Australia, Senin (2/7), pukul 13.35 waktu setempat, disambut Perdana Menteri Australia Julia Gillard. Kedua pemimpin dijadwalkan bertemu secara resmi pada Selasa (3/7) guna membahas kerja sama ekonomi. Salah satunya adalah pengembangan industri peternakan.

Sesaat sebelum bertolak ke Darwin, Senin pagi, Presiden Yudhoyono menyatakan, Indonesia memiliki fokus pembahasan kerja sama ekonomi dengan Australia, terutama dalam pengembangan peternakan sapi dan pembangunan infrastruktur di kawasan Indonesia timur.

”Kerja sama di bidang peternakan ini penting. Kebutuhan komoditas sapi di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Kita membeli sapi dari Australia. Dalam jangka panjang, tentu kerangka kerja sama ini tidak sesuai dengan strategi kita untuk membangun ketahanan pangan. Saya menyampaikan, di samping perdagangan sapi, saya juga mengajak agar ada kerja sama investasi untuk pengembangan industri ternak di Indonesia,” kata Presiden Yudhoyono.

Potensi pengembangan peternakan sapi di Indonesia ada di Nusa Tengara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Barat.

Selain pengembangan ternak sapi, Indonesia juga mengundang Australia untuk berinvestasi dalam proyek pembangunan infrastruktur di luar minyak dan gas, khususnya di kawasan Indonesia bagian timur. Dalam rangkaian kunjungan kerja Presiden Yudhoyono di Darwin tersebut juga ditandatangani kerja sama hibah lima pesawat Hercules C-130 dari Australia kepada Indonesia.

Dalam kunjungannya ke Australia kali ini, Presiden didampingi Ibu Negara Ani Yudhoyono, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Djoko Suyanto, Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Radjasa, Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Selain itu, Presiden juga didampingi Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, Sekretaris Kabinet Dipo Alam, Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono, dan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Imam Sufaat.

Empat gubernur juga turut dalam rombongan Presiden, yakni Gubernur Papua Barat Abraham O Atururi, Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Gubernur NTB M Zainul Majdi, dan Gubernur NTT Frans Lebu Raya. Sejumlah anggota DPR dan pengusaha Indonesia turut melengkapi rombongan Presiden tersebut.

Terkait rencana investasi Australia dalam peternakan sapi di Indonesia, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan, sampai saat ini belum ada realisasinya.

Staf Khusus Presiden Bidang Pangan dan Energi Jusuf mengatakan, kunjungan Presiden ke Australia salah satunya untuk membicarakan tindak lanjut rencana Australia berinvestasi dalam industri peternakan sapi di Indonesia, terutama dalam industri perbibitan. (WHY/MAS)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau