Indonesian week - apu 2012

Keisha dan Tantangan di "Indonesian Week 2012"

Kompas.com - 03/07/2012, 16:18 WIB

KOMPAS.com - Diawali rasa khawatir, akhirnya Fabiola Keisha Kurnia Ridwan mengangguk sanggup saat diminta menjadi Penanggung Jawab Divisi Humas dan Eksternal pada “Indonesian Week 2012” yang digelar di kampusnya, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang. Tugasnya pada acara tahunan ini cukup sulit, yakni menjelaskan isi program "Indonesian Week” kepada mahasiswa dan masyarakat Jepang.

Tak heran jika Keisha –sapaan akrabnya- merasa khawatir. Pasalnya, ia baru dua tahun belajar bahasa Jepang, persis dengan lama waktu ia menempuh studi di Negeri Sakura itu. Singkatnya, di tengah keharusan menjalankan perannya sebagai humas, ia merasa masih belum sempurna dalam menguasai bahasa Jepang.

Indonesian Week sendiri merupakan ajang perkenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa di Kampus APU, yang terletak di kota Beppu, wilayah Oita, atau sekitar 1000 km sebelah barat laut kota Tokyo.

Layaknya acara tahunan, Indonesian Week tahun ini digelar dengan menyajikan berbagai penampilan seni dan budaya Indonesia selama sepekan, mulai 2-5 Juli 2012.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan aneka pertunjukan yang ditampilkan selama sepekan, tema Indonesia akan semarak di Kampus APU. Mulai dari pameran kerajinan, parade seni, konser musik dangdut, festival kuliner, hingga acara puncak berupa Pergelaran Budaya yang menampilkan berbagai atraksi tarian dan seni asal Indonesia.

“Kalau boleh jujur, awalnya saya merasa khawatir apakah saya mampu menjalankan tugas ini. Karena kemampuan berbahasa Jepang sangat diandalkan, dan saya baru dua tahun mempelajarinya. Tapi saya berpikir positif, saya optimistis dapat menjalankannya,” kata Keisha, Senin (2/7/2012).

Sadar akan skill berbahasa Jepang yang sedikit belum sempurna, ia pun mulai mengasahnya dengan terus melakukan komunikasi bersama masyarakat lokal dan terjun berorganisasi di dalam kampus. Sejalan dengan itu,  ia dengan getol terus menambah ‘stok’ perbendaharaan katanya. Tujuannya hanya satu, ingin menjalankan tugasnya dengan baik, memberikan informasi dan penjelasan secara detail mengenai Indonesian Week kepada mahasiswa dan masyarakat Jepang.

“Saya menginjakkan kaki di Jepang pertama kali pada dua tahun lalu dan tanpa basic apapun mengenai bahasa Jepang. Tapi sekarang, saya siasati semuanya dengan banyak berinteraksi langsung besama masyarakat di sini,” ungkapnya.

Ia sendiri beranggapan bahwa masyarakat Jepang sangat tertarik dengan kebudayaan Indonesia yang sangat beraneka ragam. Tak lupa, ia juga menyampaikan ketertarikan masyarakat Jepang kepada makanan, tempat wisata, dan juga bahasa Indonesia.

Hal itu bukan tanpa bukti, ia memperoleh informasi langsung berdasarkan percakapannya dengan beberapa mahasiswa Jepang yang di antaranya merupakan partisipan setia Indonesian week.

“Pernah saat ‘exchange’ dengan anak-anak SMP di Jepang, ketika saya memperlihatkan gambar nasi goreng, mereka banyak yang terkagum-kagum penasaran karena nasi goreng Indonesia berbeda dengan nasi goreng di Jepang. Banyak yang bertanya kenapa warnanya cokelat dan lain-lain,” (banyak diantara mereka yang bertanya ttg kenapa warnanya coklat, dll).

Secara pribadi, ia sangat tertarik dengan kebudayaan Jepang. Khususnya mengenai budaya tepat waktu dan cara pemerintah Jepang mengorganisir semuanya dengan teratur. Ia memberikan apresiasi pada kebersihan lingkungan, dan satu hal yang sangat diakui dari masyarakat Jepang; di mana mereka sangat menghargai ketepatan waktu.

“Jujur, pertama kali saya tidak terbiasa dengan keteraturan seperti ini. Namun jika sudah terbiasa, keteraturan sistem di sini akan membuat kita lebih mandiri dan disiplin,” ungkapnya.

Sekarang, harapan mahasiswi semester 4 APM International Management, APU ini berharap dapat menjalankan perannya dengan baik. Menjelaskan sejelas-jelasnya mengenai Indonesian Week pada para mahasiswa dan masyarakat pengunjung Indonesian Week 2012.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau